Minggu, 18 Desember 2016

INTERGRASI TASAWUF DAN SAINS



IDENTITAS
Nama                          : Maulana Ikhsan        
NIM                           : 72154031
Prodi/Sem.                  : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                      : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi          : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu         : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                        :  Integrasi Tasawuf dan Sains
BUKU                                   
Identitas Buku              : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran
              Kaum Sufi (Medan : Perdana Publishing, 2016)

INTEGRASI TASAWUF DALAM SEJARAH ISLAM

Dalam sejarah islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi , ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir hadis, dan tasawuf. Meskipun berprofesi sebagai saintis dalam bidang ilmu-ilmu kealaman, para pemikir muslim klasik menempuh pola hidup sufistik, dan kajian-kajian ilmiah mereka diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan religius dan spiritual. Para filsuf dari mazhab Peripatetik merupakan pemikir muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat yunani dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis, lantaran tema-tema filsafat yunani dengan di islamisasikan dan disesuaikan dengan paradigma islam. Tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Al-Jahiz adalah ahli dalam bidang sastra arab, biologi, zoologi,sejarah,filsafat, psikologi, teologi, dan politik. Al-Kindi menguasai seluruh cabang filsafat seperti metafisika, etika, logika, psikologi, kedokteran, farmakologi,matematika,astrologi,optik,zoologi,dan meteorologi. Al-Razi adalah ahli dalam bidang filsafat, kimia,matematika, musik, dan kedokteran. Diantara prestasi besar mereka sebagian ilmuan Muslim adalah kemampuan mereka menguasai dan mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional,ilmu-ilmu empirik, dan ilmu-ilmu kewahyuan. Secara keilmuan mereka menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara personal mereka berperan sebsgsi saintis Muslim yang berpola hidup religius dan sufistik. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016 :102 dan 103).

Bahwa ilmu berakar kebenaran Allah melalui Al-quran dan sunnah. Kemudian batang nya terdiri dari
  •  Ilmu alquran 
  •  Ilmu Alkiah
  •  Ilmu teoritis 
  •  Ilmu praktis. Selanjutnya ilmu-ilmu cabang pertama, meliputi 
  •  Tasawuf
  •  Kalam 
  •  Fiqh 
  •  Hadist
  •  Tafsir.
Demikian juga Amin Abdullah menyebutkan bahwa transformasi IAIN ke UIN sebagai usaha  integrasi ilmu yang menurutnya ada lima lapis kelimanya ialah didasari oleh Al Quran dan Sunnah, dilingkari keduanya adalah metodologi dan pendekatakn keilmuan seperti kalam, falsafah, tasawuf, hadis, tarikh, fiqh, lughah. Lingkar tiganya ialah, Arceologi, fhilologi, humaneutics, proses chemestry biologi, etica, phenomonology, phisikology, Antropologi, dan sosiologi. Lingkar berikutnya antara lain international low, religius fluralism, global economic, human right, politics/ civil society, culture studies, gender isuess dan enveronimental issues,. Begitulah sesungguhnya interasi antara ilmu islam dengan sains modern. Ide integrasi ini sudah awal digulirkan, muhammad abduh seperti dikutip oleh harun nasution (1982:65), mengatakan bahwa ilmu-ilmu pengatahuan modern yang banyak berdasar padaa hukum alam (natural laws-sunnatullah) tidak bertentangan dengan islam yang sebenarnya. (Zainal Abidin Bagir, Integrasi ilmu dan Agama :69)
Selain dari mazhab Peripatetik, sejarah ilam menyebutkan keberadaan para filsuf dari mazhab Isyraqiyah dan mazhab Hikmah al – Muta’aliyah yang sukses mengintegrasikan ilmu –ilmu rasional dengan ilmu – ilmu kewahyuan. Diantara mereka adalah Suhrawardi yang dikenal ahli filsafat, tasawuf, zoroatrianisme, dan platonisme. Nashr al – Din al – Thusi merupakan dalam bidang astronomi, biologi, kimia, matematika, filasafat, fisika, teologi, tasawuf, dan hukum islam. Menarik untuk disimak, bahwa banyak ilmuan muslim terdahulu yang kehidupan mereka sangat religius dan sufistik, tetapi mereka menguasai filsafat dengan segala cabangnya seperti metafisika, matematika, fisika, astronomi, biologi, kedokteran, dan teknologi arsitektur. 
Dengan demikian, integrasi ilmu dalam islam bukan hal yang baru. Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Mereka bahkan mengintegrasi kedua jenis ilmu tersebut. Dan keduanya saling mendukung kegiatan akademik mereka. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori mereka mengenai filsafat dan sufisme. Dapat disimpulkan bahwa mereka sukses mengintegrasikan antara dua jenis ilmu tersebut, dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan perilaku hidup mereka sehari – hari.

A. Integrasi dalam Ranah Ontologi
            Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa latin disebut ontologia, sehingga ontologi bermakna teori keberadaan sebagaimana keberadaan tersebut. Ontologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang esensi segala sesuatu. Ontologi merupakan bagian dari metafisika yang merupakan bagian dari filsafat; dan membahas teori keberadaan seperti keberadaan dan karakteristik esensial keberadaan. (Ja’far,2016:105)
            Para sufi awal memang lebih banyak memfokuskan kepada masalah pendekatan kepada Allah SWT, tetapi belakangan mereka meluaskan objek kajian tasawuf sampai kepada persoalan wujud, selain tasawuf juga mulai bersinggungan dengan filsafat, sehingga mereka tidak saja membahas dan menyimak hakikat wujud – Nya, tetapi juga wujud alam dan manusia. Dari aspek ini, akan dapat dilihat titik singgung antara tasawuf dengan saintis, sebab tasawuf bukan hanya membahas tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Allah SWT atau hakikat wujud – Nya, tetapi juga memberikan perspektif tasawuf mengenai hakikat alam dan manusia, sebagaimana sains juga hendak mengkaji dan menelaah fenomena – fenoma alam, terutama berbagai persoalan tentang mineral, tumbuhan, hewan, dan manusia. Tentu saja, gagasan kaum sufi dinilai akan memberikan kontribusi dan pengayaaan perpektif dalam upaya memahami dunia fisik tersebut. (Ja’far,2016:106)
Pandangan ontologis demikian diharapkan dapat menumbuhkan sikap etis bagi ilmuwan maupun agamawan untuk ‘rendah hati’ dalam menyikapi kebenaran, yaitu bahwa kebenaran yang saya pahami hanyalah satu potong puzzle dari gambar keseluruhan alam semesta. Beragam pandangan para ilmuwan maupun agamawan yang lain dapat dipandang sebagai potongan-potongan puzzle yang berguna untuk saling melengkapi pemahaman akan kebenaran mutlak. Penjelasan ini menegaskan bahwa wujud ilmu dan agama dalam dirinya sendiri tidak mengalami konflik jika ada konflik sesungguhnya bukan konflik antara ilmu dan agama, tetapi konflik pemahaman ilmuwan dan agamawan.
          Saintis muslim sebagai peneliti alam empiric harus menyadari bahwa alam merupakan ciptaan dan manifestasi Allah SWT; dan ajaran islam mengajarkan bahwa alam merupakan tanda – tanda keberadaan dan kekuasaan – Nya, sehingga penelitian terhadap alam diharapkan dapat menumbuhkan dan memperkokoh keimanan terhadap – Nya, bukan menjauhkan manusia dari – Nya sebagaimana ditemukan dalam banyak teori ilmuan – ilmuan barat – sekular. (Ja’far,2016:107)

B.  Integrasi dalam Ranah Epistemologi
      Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, espiteme yang bermakna pengetahuan, dan logos yang bermakna ilmu atau eksplanasi, sehingga epistemologi berarti teori pengetahuan. Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok epistemology adalah makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan, dan hal – hal yang dapat diketahui. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan ilmu. (Ja’far,2016:107-108)
      Kajian – kajian ilmu – ilmu alam mengandalkan metode observasi dan eksperimen yang disebut dalam epistemologi islam sebagai metode tajribi, sedangkan kajian tasawuf mengandalkan metode irfani yang biasa disebut metode tazkiyah al nafs. Meskipun ada perbedaan metode, tetapi kedua metode bisa melengkapi dan mendukung satu sama lain. (Ja’far,2016:108)
        Dari aspek ini, saintis muslim, meskipun lebih banyak mengedepankan metode tajribi dalam mengembangkan ilmu – ilmu alam, tetap perlu mengambil metode tasawuf dalam menemukan ilmu dan kebenaran, dimana kaum sufi mengutamakan metode tazkiyah al nafs dengan melaksanakan berbagai ritual ibadah termasuk zikir, serta melakukan prakti riyadhah dan mujahadah. Dari perspektif islam, kesucian jiwa manusia menjadi syarat utama memperoleh ilmu secara langsung dari sumber asalnya, yaitu Allah SWT yang diketahui memiliki sifat al – Alim. (Ja’far,2016:109)

C. Integrasi dalam Ranah Aksiologi
            Istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan logos yang berarti teori. Aksiologi bermakna teori nilai, investigasi terhadap asal, criteria, dan status metafisik dari nilai tersebut. Aksiologi disebut dengan teori nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir dari segala sesuatu. Jadi, aksiologi membahas tentang nilai kegunaan ilmu, tujuan pencarian dan pengembangan ilmu, kaitan antara penggunaan dan pengembangan ilmu dengan kaedah moral, serta tanggung jawab sosial ilmuan. Kajian aksiologi lebih ditujukan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu, dan etika akademik ilmuan. (Ja’far,2016:110)
            Dari aspek etika akademik, nilai – nilai luhur tasawuf dapat menjadi landasan etis seorang ilmuan dalam pengembangan sains dan teknologi. Konsep al maqamat dan al ahwal dapat menjadi semacam etika profesi seorang saintis sebagai ilmuan muslim. Sekedar contoh, seorang saintis muslim sebagaimana ilmuan muslim klasik, harus menampilkan kehidupan sufistik seperti sikap zhud, wara’, sabar, tawakal, cinta, fakir, dan rida dalam menjalankan kegiatan akademik maupun dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, saintis muslim masa depan dituntut untuk mengail kearifan dalam ajaran tasawuf, dan dapat menginternalisasikannya dalam kehidupan akademik dan sosialnya. (Ja’far,2016:110-111)
            Berbicara tentang ilmu tidak hanya berbicara masalah nilai kebenaran (logis) saja, namnun juga nilai-nilai yang lain. Dengan kata lain, yang benar harus juga yang baik, yang indah dan yang ilahiah. Pandangan bahwa ilmu harus bebas nilai disatu sisi telah mengakselerasi secara cepat perkembangan ilmu namun disisi yang lain telah menghasilkan dampak negatif  yang sangat besar. Berbagai problem keilmuan terutama aplikasinya dalam bentuk teknologi telah menghasilkan beragam krisis kemanusiaan dan lingkungan, oleh karena diabaikannya berbagai nilai diluar nilai kebenaran.
              Integrasi antara Ilmu dan Agama. Ilmu dan agama bukan sesuatu yang terpisah dan bukan sesuatu yang satu berada diatas yang lain. Pandangan bahwa agama lebih tinggi dari ilmu adalah pengaruh dari konsep tentang dikotomi ilmu dan agama. Ilmu dianggap sebagai ciptaan manusia yang memiliki kebenaran relatif yang oleh karenanya memiliki posisi lebih rendah dibandingkan agama sebagai ciptaan tuhan yang memiliki kebenaran absolut.


KESIMPULAN
            Dari pembahasan kita mengetahui bahwa Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi memiliki pengertian tentang keilmuan. Ontologi bermakna ilmu tentang keberadaan dan realitas lalu epistemologi ilmu tentang ilmu untuk mempelajari ilmu, sedangkan aksiologi adalah ilmu tentang teori nilai. Dalam mengintegrasi sains kedalam 3 dasar ilmu ini, memiliki cara yang berbeda. Untuk ontologi kita bisa memakai metode pendekatan dan mengkaitan agama dengan keberadaan sains yang sudah ada. Untuk epistemologi kita bisa menggunakan metode tajribi atau metode observasi untuk mengetahui apakah agama menyinggung tentang sains yang ditemukan para ilmuan. Untuk aksiologi kita bisa mengguankan metode metode ilmiah untuk mengetahui kegunaan sains yang sudah ditemukan apakah berguna untuk agama dan masa depan.

RELEVANSI DENGAN BIDANG
           
Relevansi akhlak tasawuf oleh seorang programer kita harus dapat mengintegrasikan ilmu yang kita miliki dengan ajaran agama kita, serta kita juga harus lebih bisa mengembangkan kemajuan teknologi sekarang ini yang lebih mendukung dan lebih bisa menguatkan agama kita.

1 komentar:

  1. Mr. Gamble Casino: Welcome Bonus, Free Spins, Banking
    Mr Gamble Casino Welcome 당진 출장샵 Bonus, Free Spins, Banking, 제주도 출장샵 Casino Bonuses, VIP Program, VIP Program, Betting Bonus Codes, 서울특별 출장샵 VIP Program, 영주 출장안마 Jackpot Rewards Program. 순천 출장샵

    BalasHapus