IDENTITAS
Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Kefakiran, Sabar dan
Tawakal
BUKU
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang
Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)
A. Kefakiran ( Al – Faqr)
Istilah faqr
bermakna kemiskinan. Dalam bahasa indonesia, fakir berarti orang yang sangt
berkekurangan, orang yang terlalu miskin, atau orang yang dengan sengaja
membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin. Menurut
Al-Ghazali, fakir dapat bermakna tidak memiliki harta. Menurutnya, ada lima
tingkatan fakir, dua diantaranya yang paling tinggi derajatnya, yakni seorang
hamba yang tidak suka diberi harta, merasa tersisksa dengan harta, dan menjaga
diri dari kejahatan dan kesibukan untuk mencari harta dan seorang hamba tidak
merasa senang bila mendapatkan harta, dan tidak merasa benci bila tidak
mendapatkan harta. (Ja’far, Gerbang
Tasawuf).
Mengenai makna fakir, al – kalabazi berkata “fakir
adalah orang tidak boleh mencari mata pencaharian kecuali orang itu khawatir
tidak mampu melaksanakan tugas keagamaa1. Al – Nuri berkata “fakir
adalah orang yang harus bungkam ketika tidak memiliki sesuatu, bermurah hati
dan tidak hanya memikirkan diri sendiri jika memiliki sesuatu2. Menurut
Nashr al – Din al – Thusi, fakir dalam kajian tasawuf adalah “seseorang tidak
memiliki kecintaan terhadap kekayaan dan hiasan duniawi, dan jika ia
memilikinya maka ia tidak berkeinginan untuk menyimpan dan mengumpulkannya3.
Sedangkan menurut al –Ghazali, fakir dapat bermakna
tidak memiliki harta. Menurutnya, ada lima tingkatan fakir, dua diantaranya
yang paling tinggi derajatnya, yakni seorang hamba yang tidak suka diberi
harta, merasa tersiksa dengan harta, dan menjaga diri dari kejahatan dan kesibukan
untuk mencari harta, dan seorang hamba tidak merasa senang bila mendapatkan
harta dan tidak merasa benci bila tidak mendapatkan harta4.
B. Sabar ( Al – Shabr)
Kata sabar
berasal dari bahasa Arab, shabara, yashbiru, shabran, maknanya adalah mengikat,
bersabar, manahan diri dari larangan hukum, dan menahan diri dari kesedihan.
Dalam bahasa indonesia, sabar bermakna tahan menghadapi cobaan (tidak lekas
marah, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan
tabah, tenang, tidak tergesah-gesah, dan tidak terburu nafsu. Mengenai makna
sabar meurut kaum sufi awal , Dzun al-Nun al-Mishri, misalnya, pernah
mengatakan bahwa sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersikap
tenang ketika menelan pahitnya cobaan, dan menampakkan sikap kaya dengan
menyembunyikan kefakiran dalam kehidupan. (Ja’far, Gerbang
Tasawuf).
Menurut Nashr al – Din al –Thusi, sabar secara harfiah
bermakna “mencegah jiwa dari perasaan waswas ketika terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan”. Al – Thusi membagi sabar menjadi tiga jenis : sabar kaum awam,
yakni menjaga jiwa agar tetap kokoh dalam kesabaran dan tetap kinsisten dalam
kekuatannya. Kesabaran kaum Zuhud, yakni rasa takut dan sikap sabar kepadea
Allah dalam harapan untuk memperoleh ganjarang di akhirat. Dan kesabaran ahli
hikmah, yakni merasakan kebahagian walaupun ditimpa musibah5.
Al – Ghazali, Ibn Qudamah dan Ibn Qayyim al –Jauziyah
membagi sabar menjadi tiga : sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari
godaan untuk melakukan perbuatan maksiat dan sabat atas musibah dari Allah Swt.
C. Tawakal (Al – Tawakkul)
Dalam bahasa indonesia, tawakal adalah pasrah diri kepada kehendak allah,
percaya dengan sepenuh hati kepada Allah (dalam penderitaan dan
sebagainya),atau sesudah berikhtiar baru berserah kepada Allah. Dalam
karya-karya Tasawuf, para sufi telah memberikan penjelasan mengenai makna
tawakal. Salah satu diantaranya adalah menurut Hamdun al-Qashshar berkata,
tawakal adalah berpegang teguh kepada Allah Swt. (Ja’far, Gerbang Tasawuf).
Abu Ali al – Daqaq berkata, “tawakal kepada Allah Swt.
Memiliki tiga tingkatan, yakni tawakal, taslim dan tafwidh. Orang
yang tawakal adalah orang yang merasa tenang dengan janji Allah Swt.
Orang yang taslim adalah orang yang merasa cukup dengan ilmu –Nya. Orang
yang tafwidh adalah orang yang rela dengan hukum –Nya. Jadi tawakal
adalah permulaan, taslim adalah pertengahan, dan tafwidh adalah akhir6.
Menurut Ibn Qudamah, ada tiga derajat tawakal: menyerahkan diri hanya
kepada Allah Swt. Dan selalu mengharapkan pertolongan –Nya, pasrah dan tidak
bersandar kecuali hanya kepada Allah seperti seorang anak yang hanya bersandar
kepada ibunya, dan tidak berpisah dengan Allah Swt. Dan melihat diri sendiri
seperti orang yang mati dengan posisi seperti kepasrahan mayit ditangan orang –
orang yang memandikannya. Akan tetapi, tawkal tidak menafikan usaha, sebab
menjadi sangat penting dalam islam7.
Kesimpulan
Bersifat fakir, sabar
dan tawakkal merupakan tingkatan selanjutnya yang disepakati beberapa para sufi
dalam urutan tingkatan maqam. Fakir dalam tingkatan ini bukanlah sifat yang
paling rendah di lingkungan sosial, melainkan sifat untuk bersikap sederhana meninggalkan
kemewahan dan berusaha untuk tidak memikirkan kehidupan dunia semata karna
harta. Karna seorang sufi sangat khawatir akan harta yang dia miliki karna
suatu saat nanti akan dipertanggung jawabkan atas harta yang dia miliki.
Relevansi
Dengan Bidang Akhlak Tasawuf
Sebagai seorang program kita tidak perlu memiliki
segala sesuatu yang dimiliki dengan orang lain, sebagai seorang program kita
tidak perlu memiliki sikap yang mewah karna pekerjaan sebagai seorang
programmer pasti akan dibutuhkan oleh beberapa perusahan. Dan bersikap sabar
sebagai seorang programmer merupakan kunci utama bagi kami, karna bersikap
sabar sangat dibutuhkan dalam segala hal dan perbuatan salah satunya dalam
pembuatan program yang menghadapi beberapa masalah coding yang error. Jadi,
sabar merupakan kunci keberhasilan sebagai program dan yang terakhir bersikap
tawakkal bagi seorang programmer merupakan tindakan selanjutnya setelah
bersikap sabar yang mana sebagai seorang programmer harus ikhlas dalam membuat
suatu program, berharap program yang telah dirancang akan berhasil dan akan
banyak dipakai banyak user. Jadi bersikap tawakkal merupakan sikap penunjang
setelah bersikap sabar bagi seorang programmer.
1.
Al – Qusyairi, Risalah al – Qusyairiyah, h. 91 – 92
2.
Al – Ghazali, Ihya’ Ulum al – Din, Jus 4, h. 2 – 58
3.
Renard, Historical Dictionary of Sufism, h. 199 – 200
4.
Al – Qusyairi, Risalah al –Qusyaitiyah, h. 110
5.
Ibn Qayyim al – Jauziyah, Madarij al – Salikin, Jus 1, h. 445 – 452
6.
Al – Baqi, al – Mu’ajm al – Mufahras li Alfazh al – Qur’an al – Karim,
h. 422
7.
Al – Kalabazi, Ta’aruf li Mazhab, h. 93