Akhlak Tasawuf
Minggu, 08 Januari 2017
Minggu, 18 Desember 2016
INTERGRASI TASAWUF DAN SAINS
IDENTITAS
Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Integrasi Tasawuf dan Sains
BUKU
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang
Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran
Kaum Sufi (Medan :
Perdana Publishing, 2016)
INTEGRASI TASAWUF DALAM SEJARAH ISLAM
Dalam
sejarah islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi , ahli
matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman
seperti tauhid, fikih, tafsir hadis, dan tasawuf. Meskipun berprofesi sebagai
saintis dalam bidang ilmu-ilmu kealaman, para pemikir muslim klasik menempuh
pola hidup sufistik, dan kajian-kajian ilmiah mereka diarahkan kepada
pencapaian tujuan-tujuan religius dan spiritual. Para filsuf dari mazhab
Peripatetik merupakan pemikir muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat
yunani dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis, lantaran
tema-tema filsafat yunani dengan di islamisasikan dan disesuaikan dengan
paradigma islam. Tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai
berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga
integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Al-Jahiz adalah ahli dalam bidang
sastra arab, biologi, zoologi,sejarah,filsafat, psikologi, teologi, dan
politik. Al-Kindi menguasai seluruh cabang filsafat seperti metafisika, etika,
logika, psikologi, kedokteran,
farmakologi,matematika,astrologi,optik,zoologi,dan meteorologi. Al-Razi adalah
ahli dalam bidang filsafat, kimia,matematika, musik, dan kedokteran. Diantara
prestasi besar mereka sebagian ilmuan Muslim adalah kemampuan mereka menguasai
dan mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional,ilmu-ilmu empirik, dan ilmu-ilmu
kewahyuan. Secara keilmuan mereka menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara
personal mereka berperan sebsgsi saintis Muslim yang berpola hidup religius dan
sufistik. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016
:102 dan 103).
Bahwa ilmu berakar kebenaran Allah melalui Al-quran dan
sunnah. Kemudian batang nya terdiri dari
- Ilmu alquran
- Ilmu Alkiah
- Ilmu teoritis
- Ilmu praktis. Selanjutnya ilmu-ilmu cabang pertama, meliputi
- Tasawuf
- Kalam
- Fiqh
- Hadist
- Tafsir.
Demikian juga Amin Abdullah menyebutkan
bahwa transformasi IAIN ke UIN sebagai usaha
integrasi ilmu yang menurutnya ada lima lapis kelimanya ialah didasari
oleh Al Quran dan Sunnah, dilingkari keduanya adalah metodologi dan pendekatakn
keilmuan seperti kalam, falsafah, tasawuf, hadis, tarikh, fiqh, lughah. Lingkar
tiganya ialah, Arceologi, fhilologi, humaneutics, proses chemestry biologi,
etica, phenomonology, phisikology, Antropologi, dan sosiologi. Lingkar
berikutnya antara lain international low, religius fluralism, global economic,
human right, politics/ civil society, culture studies, gender isuess dan
enveronimental issues,. Begitulah sesungguhnya interasi antara ilmu islam
dengan sains modern. Ide integrasi ini sudah awal digulirkan, muhammad abduh
seperti dikutip oleh harun nasution (1982:65), mengatakan bahwa ilmu-ilmu
pengatahuan modern yang banyak berdasar padaa hukum alam (natural
laws-sunnatullah) tidak bertentangan dengan islam yang sebenarnya. (Zainal
Abidin Bagir, Integrasi ilmu dan Agama :69)
Selain dari mazhab Peripatetik,
sejarah ilam menyebutkan keberadaan para filsuf dari mazhab Isyraqiyah dan
mazhab Hikmah al – Muta’aliyah yang sukses mengintegrasikan ilmu –ilmu rasional
dengan ilmu – ilmu kewahyuan. Diantara mereka adalah Suhrawardi yang dikenal
ahli filsafat, tasawuf, zoroatrianisme, dan platonisme. Nashr al – Din al –
Thusi merupakan dalam bidang astronomi, biologi, kimia, matematika, filasafat,
fisika, teologi, tasawuf, dan hukum islam. Menarik untuk disimak, bahwa banyak
ilmuan muslim terdahulu yang kehidupan mereka sangat religius dan sufistik,
tetapi mereka menguasai filsafat dengan segala cabangnya seperti metafisika,
matematika, fisika, astronomi, biologi, kedokteran, dan teknologi
arsitektur.
Dengan demikian, integrasi ilmu
dalam islam bukan hal yang baru. Sebab, para ilmuan muslim klasik telah
mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Mereka
bahkan mengintegrasi kedua jenis ilmu tersebut. Dan keduanya saling mendukung
kegiatan akademik mereka. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku
hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori mereka mengenai filsafat dan
sufisme. Dapat disimpulkan bahwa mereka sukses mengintegrasikan antara dua
jenis ilmu tersebut, dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan
perilaku hidup mereka sehari – hari.
A. Integrasi dalam Ranah Ontologi
Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa latin disebut
ontologia, sehingga ontologi bermakna teori keberadaan sebagaimana keberadaan tersebut.
Ontologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang esensi segala sesuatu. Ontologi
merupakan bagian dari metafisika yang merupakan bagian dari filsafat; dan
membahas teori keberadaan seperti keberadaan dan karakteristik esensial
keberadaan. (Ja’far,2016:105)
Para sufi awal memang lebih banyak memfokuskan kepada masalah pendekatan kepada
Allah SWT, tetapi belakangan mereka meluaskan objek kajian tasawuf sampai
kepada persoalan wujud, selain tasawuf juga mulai bersinggungan dengan
filsafat, sehingga mereka tidak saja membahas dan menyimak hakikat wujud – Nya,
tetapi juga wujud alam dan manusia. Dari aspek ini, akan dapat dilihat titik
singgung antara tasawuf dengan saintis, sebab tasawuf bukan hanya membahas
tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Allah SWT atau hakikat wujud – Nya,
tetapi juga memberikan perspektif tasawuf mengenai hakikat alam dan manusia,
sebagaimana sains juga hendak mengkaji dan menelaah fenomena – fenoma alam,
terutama berbagai persoalan tentang mineral, tumbuhan, hewan, dan manusia.
Tentu saja, gagasan kaum sufi dinilai akan memberikan kontribusi dan pengayaaan
perpektif dalam upaya memahami dunia fisik tersebut. (Ja’far,2016:106)
Pandangan ontologis demikian diharapkan dapat menumbuhkan sikap etis bagi
ilmuwan maupun agamawan untuk ‘rendah hati’ dalam menyikapi kebenaran, yaitu
bahwa kebenaran yang saya pahami hanyalah satu potong puzzle dari gambar
keseluruhan alam semesta. Beragam pandangan para ilmuwan maupun agamawan yang
lain dapat dipandang sebagai potongan-potongan puzzle yang berguna untuk saling
melengkapi pemahaman akan kebenaran mutlak. Penjelasan ini menegaskan bahwa
wujud ilmu dan agama dalam dirinya sendiri tidak mengalami konflik jika ada
konflik sesungguhnya bukan konflik antara ilmu dan agama, tetapi konflik
pemahaman ilmuwan dan agamawan.
Saintis muslim sebagai peneliti alam empiric harus menyadari bahwa alam
merupakan ciptaan dan manifestasi Allah SWT; dan ajaran islam mengajarkan bahwa
alam merupakan tanda – tanda keberadaan dan kekuasaan – Nya, sehingga
penelitian terhadap alam diharapkan dapat menumbuhkan dan memperkokoh keimanan
terhadap – Nya, bukan menjauhkan manusia dari – Nya sebagaimana ditemukan dalam
banyak teori ilmuan – ilmuan barat – sekular. (Ja’far,2016:107)
B. Integrasi dalam Ranah Epistemologi
Istilah
epistemologi berasal dari bahasa Yunani, espiteme yang bermakna pengetahuan, dan
logos yang bermakna ilmu atau eksplanasi, sehingga epistemologi berarti teori
pengetahuan. Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas
pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok epistemology adalah makna
pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan, dan hal – hal yang dapat
diketahui. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan
ilmu. (Ja’far,2016:107-108)
Kajian – kajian
ilmu – ilmu alam mengandalkan metode observasi dan eksperimen yang disebut dalam
epistemologi islam sebagai metode tajribi, sedangkan kajian tasawuf
mengandalkan metode irfani yang biasa disebut metode tazkiyah al nafs. Meskipun
ada perbedaan metode, tetapi kedua metode bisa melengkapi dan mendukung satu
sama lain. (Ja’far,2016:108)
Dari
aspek ini, saintis muslim, meskipun lebih banyak mengedepankan metode tajribi
dalam mengembangkan ilmu – ilmu alam, tetap perlu mengambil metode tasawuf
dalam menemukan ilmu dan kebenaran, dimana kaum sufi mengutamakan metode
tazkiyah al nafs dengan melaksanakan berbagai ritual ibadah termasuk zikir,
serta melakukan prakti riyadhah dan mujahadah. Dari perspektif islam, kesucian
jiwa manusia menjadi syarat utama memperoleh ilmu secara langsung dari sumber
asalnya, yaitu Allah SWT yang diketahui memiliki sifat al – Alim.
(Ja’far,2016:109)
C. Integrasi dalam Ranah Aksiologi
C. Integrasi dalam Ranah Aksiologi
Istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan
logos yang berarti teori. Aksiologi bermakna teori nilai, investigasi terhadap
asal, criteria, dan status metafisik dari nilai tersebut. Aksiologi disebut
dengan teori nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir
dari segala sesuatu. Jadi, aksiologi membahas tentang nilai kegunaan ilmu,
tujuan pencarian dan pengembangan ilmu, kaitan antara penggunaan dan
pengembangan ilmu dengan kaedah moral, serta tanggung jawab sosial ilmuan.
Kajian aksiologi lebih ditujukan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu,
dan etika akademik ilmuan. (Ja’far,2016:110)
Dari aspek etika akademik, nilai – nilai luhur tasawuf dapat menjadi landasan
etis seorang ilmuan dalam pengembangan sains dan teknologi. Konsep al maqamat
dan al ahwal dapat menjadi semacam etika profesi seorang saintis sebagai ilmuan
muslim. Sekedar contoh, seorang saintis muslim sebagaimana ilmuan muslim
klasik, harus menampilkan kehidupan sufistik seperti sikap zhud, wara’, sabar,
tawakal, cinta, fakir, dan rida dalam menjalankan kegiatan akademik maupun
dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, saintis muslim masa depan dituntut
untuk mengail kearifan dalam ajaran tasawuf, dan dapat menginternalisasikannya
dalam kehidupan akademik dan sosialnya. (Ja’far,2016:110-111)
Berbicara tentang ilmu tidak hanya
berbicara masalah nilai kebenaran (logis) saja, namnun juga nilai-nilai yang
lain. Dengan kata lain, yang benar harus juga yang baik, yang indah dan yang
ilahiah. Pandangan bahwa ilmu harus bebas nilai disatu sisi telah mengakselerasi
secara cepat perkembangan ilmu namun disisi yang lain telah menghasilkan dampak
negatif yang sangat besar. Berbagai problem keilmuan terutama aplikasinya
dalam bentuk teknologi telah menghasilkan beragam krisis kemanusiaan dan
lingkungan, oleh karena diabaikannya berbagai nilai diluar nilai kebenaran.
Integrasi antara Ilmu dan Agama. Ilmu dan
agama bukan sesuatu yang terpisah dan bukan sesuatu yang satu berada diatas
yang lain. Pandangan bahwa agama lebih tinggi dari ilmu adalah pengaruh dari
konsep tentang dikotomi ilmu dan agama. Ilmu dianggap sebagai ciptaan manusia
yang memiliki kebenaran relatif yang oleh karenanya memiliki posisi lebih
rendah dibandingkan agama sebagai ciptaan tuhan yang memiliki kebenaran
absolut.
KESIMPULAN
Dari pembahasan kita mengetahui bahwa Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
memiliki pengertian tentang keilmuan. Ontologi bermakna ilmu tentang keberadaan
dan realitas lalu epistemologi ilmu tentang ilmu untuk mempelajari ilmu,
sedangkan aksiologi adalah ilmu tentang teori nilai. Dalam mengintegrasi sains
kedalam 3 dasar ilmu ini, memiliki cara yang berbeda. Untuk ontologi kita bisa
memakai metode pendekatan dan mengkaitan agama dengan keberadaan sains yang
sudah ada. Untuk epistemologi kita bisa menggunakan metode tajribi atau metode
observasi untuk mengetahui apakah agama menyinggung tentang sains yang
ditemukan para ilmuan. Untuk aksiologi kita bisa mengguankan metode metode
ilmiah untuk mengetahui kegunaan sains yang sudah ditemukan apakah berguna
untuk agama dan masa depan.
RELEVANSI DENGAN BIDANG
Relevansi
akhlak tasawuf oleh seorang programer kita harus dapat mengintegrasikan ilmu
yang kita miliki dengan ajaran agama kita, serta kita juga harus lebih bisa
mengembangkan kemajuan teknologi sekarang ini yang lebih mendukung dan lebih
bisa menguatkan agama kita.
Minggu, 11 Desember 2016
BIOGRAFI ABDUL QADIR JAELANI
IDENTITAS
Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Biografi Tokoh Sufi
ABDUL QADIR JAELANI
Abdul
Qadir Jaelani atau Abd
al-Qadir al-Gilani (bahasa Kurdi: Evdilqadirê
Geylanî, bahasa Persia: عبد القادر گیلانی, bahasa Urdu: عبد القادر آملی گیلانی Abdolqāder Gilāni) (470–561 H)
(1077–1166 M) adalah seorang ulama fiqih
yang sangat dihormati oleh Sunni dan dianggap wali
dalam dunia tarekat dan sufisme. Ia lahir pada hari Rabu tanggal 1
Ramadan di 470 H, 1077 M. Selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran.
Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.
Nama lengkap Syeikh
Abdul Qadir al-Jailani adalah, Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu Shalih Musa
Jankidaous bin Musa al Tsani bin Abdullah bin Musa al Jun bin Abdullah al
Mahdhi bin Hasan al mutsanna bin Hasan bin Ali ra.,bin Abu Thalib.[1]
Ibunya, Syarifah
Fatimah binti Sayid Abdillah al-Shuma’i al-Zahid bin abi Jamaluddin Muhammad
bin Sayid Thahir bin Sayid abi al-Atha’ Abdullah bin Sayid Kamaluddin Isa bin
Alauddin Muhammad al-Jawad bin Sayid Ali Rihda bin Sayid Musa al-Khadim bin
Sayid Ja’far al-Shadiq bin Sayid Muhammad al-Baqir bin Sayid Zainal Abidin bin
Sayid al-Husain bin Sayid Ali bin Abi Thalib ra.[2]
Masa Muda
Dalam usia 18 tahun ia sudah meninggalkan
Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095
M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah
Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali,
yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad dia
belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat,
Abul Husein al
Farra' dan juga Abu Sa'ad
al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga
mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan
juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad
al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj
menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al
Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil
memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang
yang bertaubat setelah mendengar nasihat dia. Banyak pula orang yang bersimpati
kepada dia, lalu datang menimba ilmu di sekolah dia hingga sekolah itu tidak
mampu menampung lagi.
Kepribadian
Aktifitas
keseharian al-Jailani hampir tidak mengenal istirahat. Di siang dan malam hari
ia selalu mengadakan pengajian. Materi yang disampaikan meliputi : Tafsir, Hadist,
Ushu Fiqh dan ilmu lain yang berkaitan dengannya. Seusai shalat dhuhur ia memberikan
fatwa yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum. Di sore hari sebelum shalat
maghrib, ia membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah shalat maghrib ia
selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun. Sebelum berbuka ia
menjamu makan malam tetangganya. Sesudah shalat isya’ ia beristirahat sejenak
di kamarnya sebagaimana layaknya tradisi para wali. Ia mencurahkan waktu siang
harinya untuk mengabdi pada umat manusia, semeentara di malam harinya untuk
mengabdi pada penciptanya.[3]
Al-Jailani mempunyai kepribadian yang tinggi. Ia sangat
rendah hati (tawadhu’) kapada sesamanya. Akhlaqnya mulia dan lapang dada.
Kerendahan hatinya bisa ditandai dengan keakrabannya dalam pergaulannya dengan
anak-anak, para fakir miskin dan tetangganya. Ketaqwaannya kepada Allah SWT.,
senantiasa tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.
Beliau
pernah mengatakan, bahwa amal yang paling utama adalah memberi makan kepada
miskin, dan paling mulia adalah berbudi luhur. Selanjutnya ia mengatakan, seandainya
dunia ini menjadi miliknya, maka akan diberikan kepada yang lapar. Dan disebutkan
dalam “Qalaid al-Jawahir”, bahwa setiap malam ia menyuruh membentangkan tikar
untuk makan bersama-sama tamu dan bergaul bersama kaum lemah.[4]
Murid
Murid-muridnya
banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun
kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.
Perkataan Ulama tentangnya
Syeikh
Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama dia selama satu bulan
sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh
Abdul Qadir al Jailani sampai dia meninggal dunia. Syeikh
Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Kami
sempat berjumpa dengan dia di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di
sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang dia mengutus putra dia
yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu
buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam salat
fardhu."
Karya
Imam
Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah
memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah,
takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat
yang sesuai dengan sunnah."
Karya
karyanya:
- Tafsir Al Jilani
- al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
- Futuhul Ghaib.
- Al-Fath ar-Rabbani
- Jala' al-Khawathir
- Sirr al-Asrar
- Asror Al Asror
- Malfuzhat
- Khamsata "Asyara Maktuban
- Ar Rasael
- Ad Diwaan
- Sholawat wal Aurod
- Yawaqitul Hikam
- Jalaa al khotir
- Amrul muhkam
- Usul as Sabaa
- Mukhtasar ulumuddin
Awal Kemasyhuran
Al-Jaba'i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir
pernah berkata kepadanya, "Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu
saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya
sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku
tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang
mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan
kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku
dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap
datang di malam hari dengan membawa lilin
dan obor hingga memenuhi
tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushola. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan
mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di
sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum.
Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa
Syeikh Abdul Qadir berkata, "Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada
di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah
orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam
kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti
mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan
mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka
dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu"
jawab suara itu.
Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah.
Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada
seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu,
aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.
Hubungan Guru & Murid
- Syeikh Abdul Qadir berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.
- Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
- Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut.
- Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
- Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar.
- Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
- Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.
Syeikh
Abdul Qadir berkata, "Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang
individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat
menghadapi sakaratul maut". Karena
itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai
yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat
perpisahan (maut).
Pada tahun 521 H/1127
M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal
masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya
sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq
dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam.
Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521
H sampai wafatnya pada tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul
Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M).
Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206
M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.
Mengenal al-Ahwal : Muraqabah dan Khauf
IDENTITAS
Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Mengenal al-Ahwal: Muraqabah dan Khauf
BUKU
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)
1. Al-Ahwal
Sebagaian
sufi pernah menyebutkan bahwa beberapa contoh al-Ahwal adalah
al-muraqobah,al-Khuf,al-Raja’,dan Rindu (al-syawq).
Berbeda dari al-Maqamat yang diraih dari hasil usaha salik secara mandiri dengan melakukan ibadah,mujahadah, dan Riyadhah
al-ahwal tidak diraih secara mandiri, melainkan anugrah dari Alloh Swt.dan
keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik.(Ja’far, Gerbang
Tasawuf. Hal 85. 2016).
2.
Al-Muraqobah
Ajaran
muraqobah merupakan salahsatu bentuk dari al-ahwal kata al-muraqobah memang
tidak digunakan dalam alquran katalainnya antara lain Raqiba, menurut
alqusyari,muraqobah didasari oleh Qs al Ahzar/33;52,serta gadist nabi Muhammad
Saw,mengenai al-iman,al-ihsan dan al-ihsan,makna al-ihsan (fa’illam takun
tarahu fa innahu yaraka) merupakan isyarat al muraqobah yang merufakan
ilmu hamba melihat Allah Swt,dan Allah maha mengawasi,mengetahui
keadaannya,melihat perbuatannya,dan mendengar ucapannya,seorang hamba memiliki
Al-muraqobah yakni keyakinan seorang salik bahwa dirinya selalu diawasi
oleh Allah Swt,dalam berbagai aktivitas ,sehinnga ia hanya akan melakukan amal
kebaikan dalam hidupnya,dan membenci, dan tidak akan melakukan perbuatan
maksiat dan dosa. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 86.
2016).
3.
Al-Khauf
Hakikat
takut (Al-khauf)di jelaskan berulangkali dalam al-quran, kata takut disebut
Al-quran baik dalam bentuk al-kauf maupun dalam bentuk al-khasyia. Hakikat
khauf dijelaskan secara berulang kali dalam Al-qur’an, dalam bentuk
al-khaufdisebut alqur’am sebanyak 124 kali, terutama dalam bentuk khaufun, yukhafuna,
dan akhafun, sedangkan dalam bentuk yakhsya, khasyiya dengan berbagai bentuknya
disebut 48 kali. Dalam
Q.S. Ali Imran/3:175, Allah Swt Berfirman yang artinya:
Sesungguhnya mereka itu tidaklain hanyalah
setan yang menakut-nakuti(kamu) dengan kawan-kawannya(orang-orang musyrik
quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah
kepada-ku, jika kamu benar-benar orang beriman.
Para sufi telah membicarakan
masalah al-khauf dalam karya-karya mereka. Menurut al-qusyairi, makna takut
kepada Allah Swt. Adalah takut kepada siksaanya, baik di dunia maupun di
akhirat. Khauf memiliki dua bentuk: rahbah yakni orang yang berlindung kepada
Allah Swt, dan khasyyah yakni orang yang ditarik kendalu ilmu dan melaksanakan
kebenaran. Berdasarkan pendapat mereka, al-khauf berarti seorang hamba hanya
takut kepada Allah Swt, dan tidak takut kepada selain nya.
Takut kepada Allah swt adalah takut atas siksaannya, sehingga seorang hamba
akan melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangannya.
(DR.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 86-88-2016).
Menurut al-Qusyairi,makna takut kepada Alloh Swt yaitu takut
kepada siksaannya baik di dunia maupun
akhirat menurut Abu ,Al qasim Al-hakim mengatakan khauf memiliki dua bentuk
a. Rahbah (orang yang berlindung
kepada Allah)
b. Khasyyah ( orang yang ditarik
ilmu dan melakukan kebenaran )
Menyimpulkan
poendapat mereka al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Alloh Swt
dan tidak takut kepada selainnya.takut kepada Allah Swt adalah takut atas
siksaannya sehingga seorang hamba , sehingga seorang hamba akan melakukan
semua perintah menjauhu segala larangannya.
4.
Harap ( al-Rajak)
Hakikat harap (al-raja’) dapat
ditemukan secara mudah dalam Al-qur’an. Diantaranya dalam
Q.S.al-Baqarah/2:218;. Dan Q.S. al-Zumar/39:53.menurut al-qusyairi, raja’
adalah ketergantungan hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi dmasa
yang akan dating. Abd Allah bin Khubiq berkata Raja’ terdiri atas tiga bentuk:
orang yangmengerjakan pekerjaan baik dan berharap dapat diterima; orang yang
mengerjakan perbuatan jahat dan bertobat, dan berharap mendapatkan ampunan;
danorang yang berdusta dan tidak mengulangi dosa, seraya mengharapkan ampunan.
Jadi konsep al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada Allah Swt. Berharap
semua amal, tobat, dan ampunannya diterima Allah Swt. (Dr.Ja’far,MA.Gerbang
Tasawuf.Hal 89-2016).
5.
Rindu (Al-syawq)
Menurut al-Ghazali, orang yang
memungkiri hakikat cinta kepada Allah swt, maka pasti ia akan memungkiri
hakikat rindu. Apabila seorang hamba mencintai Allah Swt, maka ia pasti akan
merindukan untuk bertemu dan melihatnya. Allah Swt berfirman
dalam Q.S. al-Ankabut/29:5 yang artinya:
Barang siapa yang mengharap
pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu
pasti dating. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui.
Para sufi telah menjelaskan makna
rindu dalam karya-karya mereka. Al-qusyairi, misalnya, mengatakan bahwa rindu
adalah keguncangan hati untuk menemui yang dicintai (Allah Swt). Cinta sangat
bergantung kepada rindu. Abu ali al-daqaq menatakan bahwa al-syawq adalah
kerinduan yang bisa reda dengan bertemu dan melihat (Allah Swt). Dua pendapat
sufi ini menegaskan bahwa rindu merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan
melihat kekasih sejatinya, yakni Allah Swt.(Dr.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal
89-90-2016).
Kesimpulan :
Dalam berbagai aktivitasnya ia akan melakukan amal
kebaikan dalam hidupnya, dan membenci dan tidak akan ingin melakukan perbuatan
maksiat dan dosa. Dan al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Allah
Swt, dan tidak takut kepada selain nya. Takut kepada Allah SWT adalah
takut atas siksaannya, sehingga seorang hamba akan melaksanakan semua perintah
dan menjauhi segala larangannya. al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada
Allah Swt. Berharap semua amal, tobat, dan ampunannya diterima AllahSwt.
Sedangkan Al-syawq merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan
melihat kekasih sejatinya yakni Allah SWT.
Relevansi dengan bidang :
Sebagai Seorang Programmer Muslim/ah
kita selalu melakukan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT dan senantiasa
berharap apa yang kita kerjakan diterima Allah Swt. dan bersungguh-sungguh
menuntut ilmu,baik itu ilmu dunia maupun akhirat, kita harus bisa menyeimbangkan
dunia dan akhirat agar kita tidak tersesat ke jalan yang salah. Senantiasa
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)