IDENTITAS
Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Mengenal al-Ahwal: Muraqabah dan Khauf
BUKU
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)
1. Al-Ahwal
Sebagaian
sufi pernah menyebutkan bahwa beberapa contoh al-Ahwal adalah
al-muraqobah,al-Khuf,al-Raja’,dan Rindu (al-syawq).
Berbeda dari al-Maqamat yang diraih dari hasil usaha salik secara mandiri dengan melakukan ibadah,mujahadah, dan Riyadhah
al-ahwal tidak diraih secara mandiri, melainkan anugrah dari Alloh Swt.dan
keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik.(Ja’far, Gerbang
Tasawuf. Hal 85. 2016).
2.
Al-Muraqobah
Ajaran
muraqobah merupakan salahsatu bentuk dari al-ahwal kata al-muraqobah memang
tidak digunakan dalam alquran katalainnya antara lain Raqiba, menurut
alqusyari,muraqobah didasari oleh Qs al Ahzar/33;52,serta gadist nabi Muhammad
Saw,mengenai al-iman,al-ihsan dan al-ihsan,makna al-ihsan (fa’illam takun
tarahu fa innahu yaraka) merupakan isyarat al muraqobah yang merufakan
ilmu hamba melihat Allah Swt,dan Allah maha mengawasi,mengetahui
keadaannya,melihat perbuatannya,dan mendengar ucapannya,seorang hamba memiliki
Al-muraqobah yakni keyakinan seorang salik bahwa dirinya selalu diawasi
oleh Allah Swt,dalam berbagai aktivitas ,sehinnga ia hanya akan melakukan amal
kebaikan dalam hidupnya,dan membenci, dan tidak akan melakukan perbuatan
maksiat dan dosa. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 86.
2016).
3.
Al-Khauf
Hakikat
takut (Al-khauf)di jelaskan berulangkali dalam al-quran, kata takut disebut
Al-quran baik dalam bentuk al-kauf maupun dalam bentuk al-khasyia. Hakikat
khauf dijelaskan secara berulang kali dalam Al-qur’an, dalam bentuk
al-khaufdisebut alqur’am sebanyak 124 kali, terutama dalam bentuk khaufun, yukhafuna,
dan akhafun, sedangkan dalam bentuk yakhsya, khasyiya dengan berbagai bentuknya
disebut 48 kali. Dalam
Q.S. Ali Imran/3:175, Allah Swt Berfirman yang artinya:
Sesungguhnya mereka itu tidaklain hanyalah
setan yang menakut-nakuti(kamu) dengan kawan-kawannya(orang-orang musyrik
quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah
kepada-ku, jika kamu benar-benar orang beriman.
Para sufi telah membicarakan
masalah al-khauf dalam karya-karya mereka. Menurut al-qusyairi, makna takut
kepada Allah Swt. Adalah takut kepada siksaanya, baik di dunia maupun di
akhirat. Khauf memiliki dua bentuk: rahbah yakni orang yang berlindung kepada
Allah Swt, dan khasyyah yakni orang yang ditarik kendalu ilmu dan melaksanakan
kebenaran. Berdasarkan pendapat mereka, al-khauf berarti seorang hamba hanya
takut kepada Allah Swt, dan tidak takut kepada selain nya.
Takut kepada Allah swt adalah takut atas siksaannya, sehingga seorang hamba
akan melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangannya.
(DR.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 86-88-2016).
Menurut al-Qusyairi,makna takut kepada Alloh Swt yaitu takut
kepada siksaannya baik di dunia maupun
akhirat menurut Abu ,Al qasim Al-hakim mengatakan khauf memiliki dua bentuk
a. Rahbah (orang yang berlindung
kepada Allah)
b. Khasyyah ( orang yang ditarik
ilmu dan melakukan kebenaran )
Menyimpulkan
poendapat mereka al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Alloh Swt
dan tidak takut kepada selainnya.takut kepada Allah Swt adalah takut atas
siksaannya sehingga seorang hamba , sehingga seorang hamba akan melakukan
semua perintah menjauhu segala larangannya.
4.
Harap ( al-Rajak)
Hakikat harap (al-raja’) dapat
ditemukan secara mudah dalam Al-qur’an. Diantaranya dalam
Q.S.al-Baqarah/2:218;. Dan Q.S. al-Zumar/39:53.menurut al-qusyairi, raja’
adalah ketergantungan hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi dmasa
yang akan dating. Abd Allah bin Khubiq berkata Raja’ terdiri atas tiga bentuk:
orang yangmengerjakan pekerjaan baik dan berharap dapat diterima; orang yang
mengerjakan perbuatan jahat dan bertobat, dan berharap mendapatkan ampunan;
danorang yang berdusta dan tidak mengulangi dosa, seraya mengharapkan ampunan.
Jadi konsep al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada Allah Swt. Berharap
semua amal, tobat, dan ampunannya diterima Allah Swt. (Dr.Ja’far,MA.Gerbang
Tasawuf.Hal 89-2016).
5.
Rindu (Al-syawq)
Menurut al-Ghazali, orang yang
memungkiri hakikat cinta kepada Allah swt, maka pasti ia akan memungkiri
hakikat rindu. Apabila seorang hamba mencintai Allah Swt, maka ia pasti akan
merindukan untuk bertemu dan melihatnya. Allah Swt berfirman
dalam Q.S. al-Ankabut/29:5 yang artinya:
Barang siapa yang mengharap
pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu
pasti dating. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui.
Para sufi telah menjelaskan makna
rindu dalam karya-karya mereka. Al-qusyairi, misalnya, mengatakan bahwa rindu
adalah keguncangan hati untuk menemui yang dicintai (Allah Swt). Cinta sangat
bergantung kepada rindu. Abu ali al-daqaq menatakan bahwa al-syawq adalah
kerinduan yang bisa reda dengan bertemu dan melihat (Allah Swt). Dua pendapat
sufi ini menegaskan bahwa rindu merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan
melihat kekasih sejatinya, yakni Allah Swt.(Dr.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal
89-90-2016).
Kesimpulan :
Dalam berbagai aktivitasnya ia akan melakukan amal
kebaikan dalam hidupnya, dan membenci dan tidak akan ingin melakukan perbuatan
maksiat dan dosa. Dan al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Allah
Swt, dan tidak takut kepada selain nya. Takut kepada Allah SWT adalah
takut atas siksaannya, sehingga seorang hamba akan melaksanakan semua perintah
dan menjauhi segala larangannya. al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada
Allah Swt. Berharap semua amal, tobat, dan ampunannya diterima AllahSwt.
Sedangkan Al-syawq merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan
melihat kekasih sejatinya yakni Allah SWT.
Relevansi dengan bidang :
Sebagai Seorang Programmer Muslim/ah
kita selalu melakukan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT dan senantiasa
berharap apa yang kita kerjakan diterima Allah Swt. dan bersungguh-sungguh
menuntut ilmu,baik itu ilmu dunia maupun akhirat, kita harus bisa menyeimbangkan
dunia dan akhirat agar kita tidak tersesat ke jalan yang salah. Senantiasa
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar