Sabtu, 03 Desember 2016

Al-Mahabbah, Al-Ridha, dan Al-Ma'rifah

IDENTITAS
Nama                           : Maulana Ikhsan 
NIM                            : 72154031
Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                       : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi           : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu          : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah                    : Akhlak Tasawuf

TEMA                         : Al-Mahabbah, Al-Ridha, dan Al-Ma'rifah

BUKU                                               
Identitas Buku               : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
                                       Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)

1.    CINTA ( Al – Mahabbah )
Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Dalam Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Al-Mahabbah dapat pula berarti al-wadud, yakni yang sangat kasih atau penyayang.(Jamil Shaliba, al-Mu’jam al-Falsafy, Jilid II, (Mesir: Dar al-Kitab, 1978), hlm.439)
Menurut Al – Ghazali, al – mahabbah adalah al – maqam sebelum ridha. Kaum sufi mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan Al – Qur’an, Hadist dan Atsar. Kata cinta disebut dalam Al – Qur’an secara berulang kali, meskipun tidak hanya dalam makna cinta kepada Allah SWT., sebagaimana yang dimaksudkan oleh kaum sufi. Kata hub disebut Al – Qur’an sebanyak 99 kali dalam berbagai bentuk kata, antara lain hubb dan yuhibbu, sedangkan dalam kata al – mahabbah tidak digunakan dalam Al – Qur’an (Al – Baqi, al – Mu’jam al – Mufahras li Alfazh al – Qur’an al – Karim, h. 243 – 245).
Sedangkan makna al – mahabbah dalam tasawuf dapat dilihat dari ucapan kaum sufi. Junaid al – baghdadi, misalnya berkata “cinta adalah masuknya sifat – sifat kekasih pada sifat – sifat yang mencintai” . Menurut Ibn Qudamah, tanda cinta kepada Allah SWT., adalah senantiasa berzikir kepada Allah, gemar mengasingkan diri hanya untuk bermunajat kepada – Nya seperti membaca Al – Qur’an dan tahajjud, merasa rugi bila melewatkan waktu tanpa menyebut nama – Nya, dan menyayangi semua hamba Allah, mengasihi mereka dan bersikap tegas terhadap musuh – musuh – Nya (Ibn Qudamah, Mukhtashar Minhaj al – Qashidin, h. 338 – 351).
Menurut Al – Ghazali, mengutip pendapat Yahya bin Mu’az, indikator seorang hamba mencintai Allah SWT., adalah mengutamakan bertemu dengan Allah dari pada bertemu dengan makhluk – Nya, lebih mengutakan perkataan Allah daripada perkataan manusia, dan lebih mengutamakan beribadah kepada Allah dari pada melayani manusia (Ja’far,2016:80).
Paham mahabbah sebagaimana disebutkan di atas mendapatkan tempat di dalam al-Qur’an. Banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menggambarkan bahwa antara manusia dengan Tuhan dapat saling bercinta. Misalnya ayat yang berbunyi:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ

Jika kamu cinta kepada Allah, maka turutlah aku dan Allah akan mencintai kamu. (QS. Ali ‘Imran, 3: 30)
يَأْ تِى اللهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْ نَهُ

Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nya. (QS. Al-Maidah, 5: 54).
Di dalam hadis juga dinyatakan sebagai berikut:

وَلَا يَزَالُ عَبْدِ ى يَتَقَرَّبُ إِ لَيَّ بِا لنَّوَا فِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ وَمَنْ اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ لَهُ سَمْعًا وَ بَصَرًا وَيَدًا

Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga Aku cinta padanya. Orang yang Kucintai menjadi telinga, mata dan tangan-Ku.

Kedua ayat dan satu hadis tersebut diatas memberitakan petunjuk bahwa antara manusia dan Tuhan dapat saling mencintai, karena alat untuk mencintai Tuhan, yaitu roh adalah berasal dari roh Tuhan. Roh Tuhan dan roh yang ada pada manusia sebagai anugerah Tuhan bersatu dan terjadilah mahabbah. Ayat dan hadis tersebut juga menjelaskan bahwa pada saat terjadi mahabbah diri yang dicintai telah menyatu dengan yang mencintai yang digambarkan dalam telinga, mata dan tangan Tuhan. Dan untuk mencapai keadaan tersebut dilakukan dengan amal ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.


2.    RIDHA ( Al – Ridha )
Kata ridha berasal dari kata rahdihya, yardha, ridwanan yang artinya “senang, puas, memilih, persetujuan, memilih, menyenangkan dan menerima”. Dalam kamus Basaha Indonesia, ridha adalah “rela, suka, senang hati, perkenan dan rahmat”. Kata ridha dari berbagai bentuk disebut di dalam Al- Qur’an sebanyak 73 kali. Menurut Al – Ghazali, islam menilai penting ridha yang dapat dilihat dari berbagai dalil dalam Al – Qur’an, hadist dan atsar. Dalam Q.S Al – Maidah / 5 : 119, Allah berfirman yang artinya : “ Hari ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang – orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai – sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap – Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.
Ibn Khatib mengatakan bahwa “ Ridha adalah tenangnya hati dengan ketetapan (takdir) Allah dan keserasian hati dengan sesuatu yang dijadikan Allah ta’ala . Menurut al – Hujwiri, ridha terbagi menjadi dua macam : ridha Allah terhadap hamba – Nya, dan ridha hamba terhadap Allah SWT. Ridha Allah terhadap hamba – Nya adalah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah – Nya, sedangkan ridha hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah – Nya dan tunduk atas segala hukum – Nya” (Al – Hujwiri, Kasyf al – Mahjub : the Persian Treatise on Sufism (Lahore: Zia-ul Quran Publications, 2001), h. 404 – 407).
Para sufi telah memberikan penegasan mengernai arti dari maqam terakhir yang mungkin dicapai oleh kaum ssufi sebagaimana dijelaskan oleh sufi – sufi dari mazhab Sunni. Menurut Al – Hujwiri, rida terbagi menjadi menjadi dua macam : rida Allah terhadap hambanya, dan rida hamba terhadap Allah SWT. Rida allah terhadap hamba – Nya adalah cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah – Nya, sedangkan rida hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah – Nya dan tunduk atas segala hukum – Nya. Menurut Ibn Qayyim al – Jauziyah, rida memiliki dua derajat : rida kepada Allah SWT sebagai Rabb dan membenci ibadah kepada selain – Nya; dan rida terhadap qada dan qadar Allah SWT. (Ja’far,2016:83-84).
Orang yang berhati ridha pada Allah memiliki sikap optimis, lapang dada, kosong hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih dari itu; memandang baik, sempurna, penuh hikmah, semua yang terjadi semua sudah ada dalam rancangan, ketentuan, dan perbulatan Tuhan. Berbeda dengan orang-orang yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini, mereka selalu ridha apabila melakukan perbuatan yang Allah haramkan, dalam hatinya selalu merasa kurang apabila meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini mereka perbuat, bermakna merasa puas hati apabila aktivitas hidupnya bisa membuat risau, khawatir, dan selalu mengganggu terhadap sesamanya. Semuanya itu ia lakukan karena mengikut hawa nafsu yang tanpa ia sadari bahwa sebenarnya syaitan telah menjerat dirinya dalam kubangan dosa. Orang-orang yang seperti inilah dengan indahnya Allah telah menjelaskan dalam surat At-Taubah ayat 96:
يَحْلِفُوْنَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِيْنَ
“Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka, tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang berbuat fasik.”( http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/definisi-penjelasan-ridha-dalam-tasawuf).

3.    MAKRIFAT ( Al – Ma’rifah )
Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat, dan menegaskan bahwa al – ridha bukan maqam tertinggi. Sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua yaitu makrifat haq dan makrifat haqiqah. Makrifat haq adalah penegasan keesaan Allah atas sifat – sifat yang di kemukakan – Nya, sedangkan makrifat haqiqah adalah makrifat yang tidak bisa dicapaindengan sarana apapun, sebab sifat – Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan – Nya tidak dapat dipahami. Makrifatv bermakna menyaksikan kekuasaan Allah dan merasakan bearnya kebenaran – Nya dan mulianya kehebatan – Nya yang tidak bisa diungkap dengan ibarat apapun. (Ja’far,2016:84)
Makrifat adalah pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah SWT., tidak menyaksikan selain menyaksikan-Nya, dan tidak kembali kepada selain kepada selain-Nya . Nashral – Din al – Thusi menjelaskan bahwa makrifat adalah derajat tertinggi pengetahuan tentang Allah SWT., dan pengetahuan tentang-Nya memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan makrifat paling tinggi dimiliki oleh kaum ‘urafa, ahl al – yaqin dan al – hudhur yang menyaksikan-Nya secara langsung dengan hati (Al – Thusi, Awsaf al – Ashraf, h. 42 – 43). Dalam pandangan al-Ghazali, rahasia serta "ruh" yang terkandung dalam ma'rifat adalah tauhid, yaitu penyucian sifat hayat 'ilmu, qudrat, iradat, sam', bashar, dan kalam Allah dari penyerupaan. 

Adapun sumber ma'rifat menurut al-Ghazali ada empat yaitu : 

a. Pancaindera; Menurut al-Ghazali, pancaindera adalah termasuk juga sumber ma'rifat. Akan
    tetapi bekerjanya hanya dalam beberapa sumber, akan tetapi tidak dalam yang lain.

b. Akal; Sebagaimana pancaindera, akal juga adalah merupakan salah satu sumber ma'rifat dalam
    beberapa sumber. Tetapi sekali lagi, ditegaskan bahwa ia bukanlah segala-galanya.\
    Menganggap dan memberikan cakupan yang luas bagi akal sebagai sumber ma'rifat dapat
    menyebabkan penyepelean terhadap al-Qur'an sebagai utama.

c. Wahyu; Menurut al-Ghazali, wahyu adalah sumber terbesar bagi Ma'rifat. Wilayah
    cakupannya sangat luas, sesuai dengan posisinya sebagai sumber pertama dan utama bagi
    ajaran Islam. 

d. Kasyf; yang dimaksud dengan kasyf oleh al-Ghazali adalah cahaya yang dihunjamkan ke
    dalam hati hamba, sehingga hati dapat melihat dan merasakan sesuatu dengan 'ain al-yaqin.
    Kasyf adalah sumber kedua bagi ma'rifat yang terbesar setelah wahyu. 

Tingkatan ma'rifat, menurut al-Ghazali berjenjang sesuai dengan tingkatan iman seseorang. Karena itu, tingkatan ma'rifat dibagi menjadi tiga sesuai dengan tingkatan iman seseorang. Tiga tingkatan tersebut yaitu :

a. Tingkatan pertama; imannya orang awam. Iman dalam tingkatan ini adalah iman taqlid yang
    murni.

b. Tingkatan kedua; Imannya para ahli kalam. Mereka adalah orang-orang yang mengaku ahli
    akal dan berpikir atau mengaku sebagai tokoh penelitian dan istidlal. 

c. Tingkatan ketiga; Imannya para 'arifin yaitu orang-orang yang menyaksikan dengan 'ainul
    yaqin. (41) 

Dijelaskan bahwa akhlaq Sufi tidak ubahnya dengan akhlaq Tuhan. Ia baik dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar seluruh sikap dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Namun demikian untuk mencapai tingkat ini tidaklah mudah meskipun selintas dapat dipahami bahwa Ma’rifat didapat dengan ikhlas beribadah dan sungguh-sungguh mencintai dan mengenal Tuhan, sehingga Allah SWT berkenan menyingkap tabir dari pandangan Sufi untuk menerima cahaya yang dipancarkan, yang pada akhirnya Sufi dapat melihat keindahan dan keesaan-Nya. Jalan yang dilalui seorang Sufi tidaklah mulus dan mudah. Sulit sekali untuk pindah dari satu maqam ke maqam yang lain. Untuk itu seorang Sufi memang harus melakukan usaha yang berat dan waktu yang panjang, bahkan kadang-kadang ia masih harus tinggal bertahun-tahun di satu maqam.

KESIMPULAN
Disimpulkan bahwa cinta, ridha dan makrifat merupakan salah satu sifat atau tingkatan yang harus dapat dimiliki oleh seorang salik. Cinta yang dimaksud dalam tingkatan maqam adalah cinta terhadap apa yang kita miliki, lebih terutama cinta terhadap siapa yang telah memberikan kita banyak kenikmatan dan kita juga harus ridha terhadap apa yang telah digariskan terhadap kehidupan kita dan kita hanya mengingat Dia yang telah memberikan kita kesempatan untuk depat mendekatkan diri kepada-Nya. Jadi antara cinta, ridha dan makrifat bisa dibilang saling berkaitan dan tingkatan maqam yang paling tertinggi adalah Makrifat dan yang pertama adalah Taubat. Dan Orang yg sudah memiliki sifat makrifat ia akan baik dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar seluruh sikap dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat Tuhan.


RELEVANSI
Sebagai seorang programmer kita harus mencintai apa yang kita kerjakan, kita harus dapat mencintai pekerjaan ataupun profesi yang kita miliki agar apa yang kita jalani akan terasa lebih mudah dan ringan saat kita melakukannya. Dan pastinya bersifat ridha merupakan salah satu cara kita agar dapat menyelesaikan pekerjaan kita dengan mudah , karna bersifat ridha terhadap pekerjaan kita menjadi ikhlas dan sabar dan pastinya kita akan terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin. Dan kita sebagai seorang programmer tentunya tidak lupa terhadap-Nya, kita juga harus dapat mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara bersikap makrifat. Yaitu sifat yang mana hanya ada Dia disetiap langkah perbuatan kita sehingga apa yang kita lakukan akan terasa ringan dan puas terhadap hasil yang akan dimiliki. Dan Orang yg sudah memiliki sifat makrifat ia akan baik dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar seluruh sikap dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar