Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Al-Mahabbah, Al-Ridha, dan Al-Ma'rifah
BUKU
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
1. CINTA ( Al – Mahabbah )
Kata
mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan,
yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau
cinta yang mendalam. Dalam Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah
adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Al-Mahabbah
dapat pula berarti al-wadud, yakni yang sangat kasih atau penyayang.(Jamil Shaliba, al-Mu’jam al-Falsafy, Jilid
II, (Mesir: Dar al-Kitab, 1978), hlm.439)
Menurut Al – Ghazali, al – mahabbah adalah al – maqam
sebelum ridha. Kaum sufi mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan Al –
Qur’an, Hadist dan Atsar. Kata cinta disebut dalam Al – Qur’an secara berulang
kali, meskipun tidak hanya dalam makna cinta kepada Allah SWT., sebagaimana
yang dimaksudkan oleh kaum sufi. Kata hub disebut Al – Qur’an sebanyak
99 kali dalam berbagai bentuk kata, antara lain hubb dan yuhibbu,
sedangkan dalam kata al – mahabbah tidak digunakan dalam Al – Qur’an (Al
– Baqi, al – Mu’jam al – Mufahras li Alfazh al – Qur’an al – Karim,
h. 243 – 245).
Sedangkan makna al – mahabbah dalam tasawuf dapat
dilihat dari ucapan kaum sufi. Junaid al – baghdadi, misalnya berkata
“cinta adalah masuknya sifat – sifat kekasih pada sifat – sifat yang mencintai”
. Menurut Ibn Qudamah, tanda cinta kepada Allah SWT., adalah senantiasa
berzikir kepada Allah, gemar mengasingkan diri hanya untuk bermunajat kepada –
Nya seperti membaca Al – Qur’an dan tahajjud, merasa rugi bila melewatkan waktu
tanpa menyebut nama – Nya, dan menyayangi semua hamba Allah, mengasihi mereka
dan bersikap tegas terhadap musuh – musuh – Nya (Ibn
Qudamah, Mukhtashar Minhaj al – Qashidin, h. 338 – 351).
Menurut Al – Ghazali, mengutip pendapat Yahya bin Mu’az,
indikator seorang hamba mencintai Allah SWT., adalah mengutamakan bertemu
dengan Allah dari pada bertemu dengan makhluk – Nya, lebih mengutakan perkataan
Allah daripada perkataan manusia, dan lebih mengutamakan beribadah kepada Allah
dari pada melayani manusia (Ja’far,2016:80).
Paham mahabbah sebagaimana disebutkan di atas
mendapatkan tempat di dalam al-Qur’an. Banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang
menggambarkan bahwa antara manusia dengan Tuhan dapat saling bercinta. Misalnya
ayat yang berbunyi:
قُلْ
اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ
Jika kamu cinta
kepada Allah, maka turutlah aku dan Allah akan mencintai kamu. (QS. Ali
‘Imran, 3: 30)
يَأْ
تِى اللهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْ نَهُ
Allah akan
mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nya. (QS. Al-Maidah,
5: 54).
Di dalam hadis
juga dinyatakan sebagai berikut:
وَلَا
يَزَالُ عَبْدِ ى يَتَقَرَّبُ إِ لَيَّ بِا لنَّوَا فِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ وَمَنْ
اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ لَهُ سَمْعًا وَ بَصَرًا وَيَدًا
Hamba-Ku
senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga Aku
cinta padanya. Orang yang Kucintai menjadi telinga, mata dan tangan-Ku.
Kedua ayat dan satu hadis tersebut diatas
memberitakan petunjuk bahwa antara manusia dan Tuhan dapat saling mencintai,
karena alat untuk mencintai Tuhan, yaitu roh adalah berasal dari roh Tuhan. Roh
Tuhan dan roh yang ada pada manusia sebagai anugerah Tuhan bersatu dan
terjadilah mahabbah. Ayat dan hadis tersebut juga menjelaskan bahwa pada saat
terjadi mahabbah diri yang dicintai telah menyatu dengan yang mencintai yang
digambarkan dalam telinga, mata dan tangan Tuhan. Dan untuk mencapai keadaan
tersebut dilakukan dengan amal ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
2. RIDHA ( Al – Ridha )
Kata ridha berasal dari kata rahdihya, yardha,
ridwanan yang artinya “senang, puas, memilih, persetujuan, memilih,
menyenangkan dan menerima”. Dalam kamus Basaha Indonesia, ridha adalah “rela,
suka, senang hati, perkenan dan rahmat”. Kata ridha dari berbagai bentuk
disebut di dalam Al- Qur’an sebanyak 73 kali. Menurut Al – Ghazali, islam
menilai penting ridha yang dapat dilihat dari berbagai dalil dalam Al – Qur’an,
hadist dan atsar. Dalam Q.S Al – Maidah / 5 : 119, Allah berfirman yang artinya
: “ Hari ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang – orang yang benar
kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai – sungai,
mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha
terhadap – Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.
Ibn Khatib mengatakan bahwa “ Ridha adalah tenangnya hati
dengan ketetapan (takdir) Allah dan keserasian hati dengan sesuatu yang
dijadikan Allah ta’ala . Menurut al – Hujwiri, ridha terbagi menjadi
dua macam : ridha Allah terhadap hamba – Nya, dan ridha hamba terhadap Allah
SWT. Ridha Allah terhadap hamba – Nya adalah dengan cara memberikan pahala,
nikmat, dan karamah – Nya, sedangkan ridha hamba kepada Allah adalah
melaksanakan segala perintah – Nya dan tunduk atas segala hukum – Nya” (Al
– Hujwiri, Kasyf al – Mahjub : the Persian Treatise on Sufism (Lahore: Zia-ul
Quran Publications, 2001), h. 404 – 407).
Para sufi telah
memberikan penegasan mengernai arti dari maqam terakhir yang mungkin dicapai
oleh kaum ssufi sebagaimana dijelaskan oleh sufi – sufi dari mazhab Sunni.
Menurut Al – Hujwiri, rida terbagi menjadi menjadi dua macam : rida Allah
terhadap hambanya, dan rida hamba terhadap Allah SWT. Rida allah terhadap hamba
– Nya adalah cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah – Nya, sedangkan rida
hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah – Nya dan tunduk atas
segala hukum – Nya. Menurut Ibn Qayyim al – Jauziyah, rida memiliki dua derajat
: rida kepada Allah SWT sebagai Rabb dan membenci ibadah kepada selain – Nya;
dan rida terhadap qada dan qadar Allah SWT. (Ja’far,2016:83-84).
Orang
yang berhati ridha pada Allah memiliki sikap optimis, lapang dada, kosong
hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih dari itu; memandang
baik, sempurna, penuh hikmah, semua yang terjadi semua sudah ada dalam
rancangan, ketentuan, dan perbulatan Tuhan. Berbeda dengan orang-orang yang
selalu membuat kerusakan di muka bumi ini, mereka selalu ridha apabila
melakukan perbuatan yang Allah haramkan, dalam hatinya selalu merasa kurang
apabila meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini mereka perbuat, bermakna
merasa puas hati apabila aktivitas hidupnya bisa membuat risau, khawatir, dan
selalu mengganggu terhadap sesamanya. Semuanya itu ia lakukan karena mengikut
hawa nafsu yang tanpa ia sadari bahwa sebenarnya syaitan telah menjerat dirinya
dalam kubangan dosa. Orang-orang yang seperti inilah dengan indahnya Allah
telah menjelaskan dalam surat At-Taubah ayat 96:
يَحْلِفُوْنَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا
عَنْهُمْ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ
الْفَاسِقِيْنَ
“Mereka
akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka, tetapi jika sekiranya
kamu ridha kepada mereka, Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang
yang berbuat fasik.”( http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/definisi-penjelasan-ridha-dalam-tasawuf).
3. MAKRIFAT ( Al – Ma’rifah )
Sebagian
sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat
mencapai maqam seperti makrifat, dan menegaskan bahwa al – ridha bukan maqam
tertinggi. Sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua yaitu makrifat haq dan
makrifat haqiqah. Makrifat haq adalah penegasan keesaan Allah atas sifat –
sifat yang di kemukakan – Nya, sedangkan makrifat haqiqah adalah makrifat yang
tidak bisa dicapaindengan sarana apapun, sebab sifat – Nya tidak dapat ditembus
dan ketuhanan – Nya tidak dapat dipahami. Makrifatv bermakna menyaksikan
kekuasaan Allah dan merasakan bearnya kebenaran – Nya dan mulianya kehebatan –
Nya yang tidak bisa diungkap dengan ibarat apapun. (Ja’far,2016:84)
Makrifat adalah pengosongan diri
untuk selalu mengingat Allah SWT., tidak menyaksikan selain menyaksikan-Nya,
dan tidak kembali kepada selain kepada selain-Nya . Nashral – Din al – Thusi
menjelaskan bahwa makrifat adalah derajat tertinggi pengetahuan tentang Allah
SWT., dan pengetahuan tentang-Nya memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan
makrifat paling tinggi dimiliki oleh kaum ‘urafa, ahl al – yaqin dan al –
hudhur yang menyaksikan-Nya secara langsung dengan hati (Al – Thusi,
Awsaf al – Ashraf, h. 42 – 43).
Dalam pandangan al-Ghazali, rahasia
serta "ruh" yang terkandung dalam ma'rifat adalah tauhid, yaitu
penyucian sifat hayat 'ilmu, qudrat, iradat, sam', bashar, dan kalam Allah dari
penyerupaan.
Adapun
sumber ma'rifat menurut al-Ghazali ada empat yaitu :
a.
Pancaindera; Menurut al-Ghazali, pancaindera adalah termasuk juga sumber
ma'rifat. Akan
tetapi bekerjanya hanya dalam beberapa
sumber, akan tetapi tidak dalam yang lain.
b.
Akal; Sebagaimana pancaindera, akal juga adalah merupakan salah satu sumber
ma'rifat dalam
beberapa sumber. Tetapi sekali lagi,
ditegaskan bahwa ia bukanlah segala-galanya.\
Menganggap dan memberikan cakupan yang luas
bagi akal sebagai sumber ma'rifat dapat
menyebabkan penyepelean terhadap al-Qur'an
sebagai utama.
c.
Wahyu; Menurut al-Ghazali, wahyu adalah sumber terbesar bagi Ma'rifat. Wilayah
cakupannya sangat luas, sesuai dengan
posisinya sebagai sumber pertama dan utama bagi
ajaran Islam.
d.
Kasyf; yang dimaksud dengan kasyf oleh al-Ghazali adalah cahaya yang
dihunjamkan ke
dalam hati hamba, sehingga hati dapat
melihat dan merasakan sesuatu dengan 'ain al-yaqin.
Kasyf adalah sumber kedua bagi ma'rifat
yang terbesar setelah wahyu.
Tingkatan
ma'rifat, menurut al-Ghazali berjenjang sesuai dengan tingkatan iman seseorang.
Karena itu, tingkatan ma'rifat dibagi menjadi tiga sesuai dengan tingkatan iman
seseorang. Tiga tingkatan tersebut yaitu :
a.
Tingkatan pertama; imannya orang awam. Iman dalam tingkatan ini adalah iman
taqlid yang
murni.
b.
Tingkatan kedua; Imannya para ahli kalam. Mereka adalah orang-orang yang
mengaku ahli
akal dan berpikir atau mengaku sebagai
tokoh penelitian dan istidlal.
c.
Tingkatan ketiga; Imannya para 'arifin yaitu orang-orang yang menyaksikan
dengan 'ainul
yaqin. (41)
Dijelaskan bahwa akhlaq Sufi tidak ubahnya dengan akhlaq
Tuhan. Ia baik dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar seluruh sikap
dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Namun demikian untuk mencapai
tingkat ini tidaklah mudah meskipun selintas dapat dipahami bahwa Ma’rifat
didapat dengan ikhlas beribadah dan sungguh-sungguh mencintai dan mengenal
Tuhan, sehingga Allah SWT berkenan menyingkap tabir dari pandangan Sufi untuk
menerima cahaya yang dipancarkan, yang pada akhirnya Sufi dapat melihat
keindahan dan keesaan-Nya. Jalan yang dilalui seorang Sufi tidaklah mulus dan
mudah. Sulit sekali untuk pindah dari satu maqam ke maqam yang lain. Untuk itu
seorang Sufi memang harus melakukan usaha yang berat dan waktu yang panjang,
bahkan kadang-kadang ia masih harus tinggal bertahun-tahun di satu maqam.
KESIMPULAN
Disimpulkan
bahwa cinta, ridha dan makrifat merupakan salah satu sifat atau tingkatan yang
harus dapat dimiliki oleh seorang salik. Cinta yang dimaksud dalam tingkatan
maqam adalah cinta terhadap apa yang kita miliki, lebih terutama cinta terhadap
siapa yang telah memberikan kita banyak kenikmatan dan kita juga harus ridha
terhadap apa yang telah digariskan terhadap kehidupan kita dan kita hanya
mengingat Dia yang telah memberikan kita kesempatan untuk depat mendekatkan
diri kepada-Nya. Jadi antara cinta, ridha dan makrifat bisa dibilang saling
berkaitan dan tingkatan maqam yang paling tertinggi adalah Makrifat dan yang
pertama adalah Taubat. Dan Orang yg sudah memiliki sifat makrifat ia akan baik
dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar seluruh sikap dan perilakunya
mencerminkan sifat-sifat Tuhan.
RELEVANSI
Sebagai
seorang programmer kita harus mencintai apa yang kita kerjakan, kita harus
dapat mencintai pekerjaan ataupun profesi yang kita miliki agar apa yang kita
jalani akan terasa lebih mudah dan ringan saat kita melakukannya. Dan pastinya
bersifat ridha merupakan salah satu cara kita agar dapat menyelesaikan
pekerjaan kita dengan mudah , karna bersifat ridha terhadap pekerjaan kita
menjadi ikhlas dan sabar dan pastinya kita akan terus berusaha untuk
mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin. Dan kita sebagai seorang programmer
tentunya tidak lupa terhadap-Nya, kita juga harus dapat mendekatkan diri
kepada-Nya dengan cara bersikap makrifat. Yaitu sifat yang mana hanya ada Dia
disetiap langkah perbuatan kita sehingga apa yang kita lakukan akan terasa
ringan dan puas terhadap hasil yang akan dimiliki. Dan Orang yg sudah memiliki
sifat makrifat ia akan baik dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar
seluruh sikap dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar