IDENTITAS
Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Biografi Tokoh Sufi
ABDUL QADIR JAELANI
Abdul
Qadir Jaelani atau Abd
al-Qadir al-Gilani (bahasa Kurdi: Evdilqadirê
Geylanî, bahasa Persia: عبد القادر گیلانی, bahasa Urdu: عبد القادر آملی گیلانی Abdolqāder Gilāni) (470–561 H)
(1077–1166 M) adalah seorang ulama fiqih
yang sangat dihormati oleh Sunni dan dianggap wali
dalam dunia tarekat dan sufisme. Ia lahir pada hari Rabu tanggal 1
Ramadan di 470 H, 1077 M. Selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran.
Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.
Nama lengkap Syeikh
Abdul Qadir al-Jailani adalah, Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu Shalih Musa
Jankidaous bin Musa al Tsani bin Abdullah bin Musa al Jun bin Abdullah al
Mahdhi bin Hasan al mutsanna bin Hasan bin Ali ra.,bin Abu Thalib.[1]
Ibunya, Syarifah
Fatimah binti Sayid Abdillah al-Shuma’i al-Zahid bin abi Jamaluddin Muhammad
bin Sayid Thahir bin Sayid abi al-Atha’ Abdullah bin Sayid Kamaluddin Isa bin
Alauddin Muhammad al-Jawad bin Sayid Ali Rihda bin Sayid Musa al-Khadim bin
Sayid Ja’far al-Shadiq bin Sayid Muhammad al-Baqir bin Sayid Zainal Abidin bin
Sayid al-Husain bin Sayid Ali bin Abi Thalib ra.[2]
Masa Muda
Dalam usia 18 tahun ia sudah meninggalkan
Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095
M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah
Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali,
yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad dia
belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat,
Abul Husein al
Farra' dan juga Abu Sa'ad
al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga
mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan
juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad
al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj
menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al
Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil
memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang
yang bertaubat setelah mendengar nasihat dia. Banyak pula orang yang bersimpati
kepada dia, lalu datang menimba ilmu di sekolah dia hingga sekolah itu tidak
mampu menampung lagi.
Kepribadian
Aktifitas
keseharian al-Jailani hampir tidak mengenal istirahat. Di siang dan malam hari
ia selalu mengadakan pengajian. Materi yang disampaikan meliputi : Tafsir, Hadist,
Ushu Fiqh dan ilmu lain yang berkaitan dengannya. Seusai shalat dhuhur ia memberikan
fatwa yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum. Di sore hari sebelum shalat
maghrib, ia membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah shalat maghrib ia
selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun. Sebelum berbuka ia
menjamu makan malam tetangganya. Sesudah shalat isya’ ia beristirahat sejenak
di kamarnya sebagaimana layaknya tradisi para wali. Ia mencurahkan waktu siang
harinya untuk mengabdi pada umat manusia, semeentara di malam harinya untuk
mengabdi pada penciptanya.[3]
Al-Jailani mempunyai kepribadian yang tinggi. Ia sangat
rendah hati (tawadhu’) kapada sesamanya. Akhlaqnya mulia dan lapang dada.
Kerendahan hatinya bisa ditandai dengan keakrabannya dalam pergaulannya dengan
anak-anak, para fakir miskin dan tetangganya. Ketaqwaannya kepada Allah SWT.,
senantiasa tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.
Beliau
pernah mengatakan, bahwa amal yang paling utama adalah memberi makan kepada
miskin, dan paling mulia adalah berbudi luhur. Selanjutnya ia mengatakan, seandainya
dunia ini menjadi miliknya, maka akan diberikan kepada yang lapar. Dan disebutkan
dalam “Qalaid al-Jawahir”, bahwa setiap malam ia menyuruh membentangkan tikar
untuk makan bersama-sama tamu dan bergaul bersama kaum lemah.[4]
Murid
Murid-muridnya
banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun
kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.
Perkataan Ulama tentangnya
Syeikh
Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama dia selama satu bulan
sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh
Abdul Qadir al Jailani sampai dia meninggal dunia. Syeikh
Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Kami
sempat berjumpa dengan dia di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di
sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang dia mengutus putra dia
yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu
buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam salat
fardhu."
Karya
Imam
Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah
memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah,
takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat
yang sesuai dengan sunnah."
Karya
karyanya:
- Tafsir Al Jilani
- al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
- Futuhul Ghaib.
- Al-Fath ar-Rabbani
- Jala' al-Khawathir
- Sirr al-Asrar
- Asror Al Asror
- Malfuzhat
- Khamsata "Asyara Maktuban
- Ar Rasael
- Ad Diwaan
- Sholawat wal Aurod
- Yawaqitul Hikam
- Jalaa al khotir
- Amrul muhkam
- Usul as Sabaa
- Mukhtasar ulumuddin
Awal Kemasyhuran
Al-Jaba'i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir
pernah berkata kepadanya, "Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu
saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya
sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku
tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang
mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan
kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku
dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap
datang di malam hari dengan membawa lilin
dan obor hingga memenuhi
tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushola. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan
mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di
sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum.
Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa
Syeikh Abdul Qadir berkata, "Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada
di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah
orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam
kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti
mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan
mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka
dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu"
jawab suara itu.
Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah.
Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada
seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu,
aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.
Hubungan Guru & Murid
- Syeikh Abdul Qadir berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.
- Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
- Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut.
- Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
- Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar.
- Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
- Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.
Syeikh
Abdul Qadir berkata, "Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang
individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat
menghadapi sakaratul maut". Karena
itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai
yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat
perpisahan (maut).
Pada tahun 521 H/1127
M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal
masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya
sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq
dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam.
Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521
H sampai wafatnya pada tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul
Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M).
Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206
M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar