Minggu, 18 Desember 2016

INTERGRASI TASAWUF DAN SAINS



IDENTITAS
Nama                          : Maulana Ikhsan        
NIM                           : 72154031
Prodi/Sem.                  : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                      : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi          : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu         : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                        :  Integrasi Tasawuf dan Sains
BUKU                                   
Identitas Buku              : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran
              Kaum Sufi (Medan : Perdana Publishing, 2016)

INTEGRASI TASAWUF DALAM SEJARAH ISLAM

Dalam sejarah islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi , ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir hadis, dan tasawuf. Meskipun berprofesi sebagai saintis dalam bidang ilmu-ilmu kealaman, para pemikir muslim klasik menempuh pola hidup sufistik, dan kajian-kajian ilmiah mereka diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan religius dan spiritual. Para filsuf dari mazhab Peripatetik merupakan pemikir muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat yunani dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis, lantaran tema-tema filsafat yunani dengan di islamisasikan dan disesuaikan dengan paradigma islam. Tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Al-Jahiz adalah ahli dalam bidang sastra arab, biologi, zoologi,sejarah,filsafat, psikologi, teologi, dan politik. Al-Kindi menguasai seluruh cabang filsafat seperti metafisika, etika, logika, psikologi, kedokteran, farmakologi,matematika,astrologi,optik,zoologi,dan meteorologi. Al-Razi adalah ahli dalam bidang filsafat, kimia,matematika, musik, dan kedokteran. Diantara prestasi besar mereka sebagian ilmuan Muslim adalah kemampuan mereka menguasai dan mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional,ilmu-ilmu empirik, dan ilmu-ilmu kewahyuan. Secara keilmuan mereka menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara personal mereka berperan sebsgsi saintis Muslim yang berpola hidup religius dan sufistik. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016 :102 dan 103).

Bahwa ilmu berakar kebenaran Allah melalui Al-quran dan sunnah. Kemudian batang nya terdiri dari
  •  Ilmu alquran 
  •  Ilmu Alkiah
  •  Ilmu teoritis 
  •  Ilmu praktis. Selanjutnya ilmu-ilmu cabang pertama, meliputi 
  •  Tasawuf
  •  Kalam 
  •  Fiqh 
  •  Hadist
  •  Tafsir.
Demikian juga Amin Abdullah menyebutkan bahwa transformasi IAIN ke UIN sebagai usaha  integrasi ilmu yang menurutnya ada lima lapis kelimanya ialah didasari oleh Al Quran dan Sunnah, dilingkari keduanya adalah metodologi dan pendekatakn keilmuan seperti kalam, falsafah, tasawuf, hadis, tarikh, fiqh, lughah. Lingkar tiganya ialah, Arceologi, fhilologi, humaneutics, proses chemestry biologi, etica, phenomonology, phisikology, Antropologi, dan sosiologi. Lingkar berikutnya antara lain international low, religius fluralism, global economic, human right, politics/ civil society, culture studies, gender isuess dan enveronimental issues,. Begitulah sesungguhnya interasi antara ilmu islam dengan sains modern. Ide integrasi ini sudah awal digulirkan, muhammad abduh seperti dikutip oleh harun nasution (1982:65), mengatakan bahwa ilmu-ilmu pengatahuan modern yang banyak berdasar padaa hukum alam (natural laws-sunnatullah) tidak bertentangan dengan islam yang sebenarnya. (Zainal Abidin Bagir, Integrasi ilmu dan Agama :69)
Selain dari mazhab Peripatetik, sejarah ilam menyebutkan keberadaan para filsuf dari mazhab Isyraqiyah dan mazhab Hikmah al – Muta’aliyah yang sukses mengintegrasikan ilmu –ilmu rasional dengan ilmu – ilmu kewahyuan. Diantara mereka adalah Suhrawardi yang dikenal ahli filsafat, tasawuf, zoroatrianisme, dan platonisme. Nashr al – Din al – Thusi merupakan dalam bidang astronomi, biologi, kimia, matematika, filasafat, fisika, teologi, tasawuf, dan hukum islam. Menarik untuk disimak, bahwa banyak ilmuan muslim terdahulu yang kehidupan mereka sangat religius dan sufistik, tetapi mereka menguasai filsafat dengan segala cabangnya seperti metafisika, matematika, fisika, astronomi, biologi, kedokteran, dan teknologi arsitektur. 
Dengan demikian, integrasi ilmu dalam islam bukan hal yang baru. Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Mereka bahkan mengintegrasi kedua jenis ilmu tersebut. Dan keduanya saling mendukung kegiatan akademik mereka. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori mereka mengenai filsafat dan sufisme. Dapat disimpulkan bahwa mereka sukses mengintegrasikan antara dua jenis ilmu tersebut, dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan perilaku hidup mereka sehari – hari.

A. Integrasi dalam Ranah Ontologi
            Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa latin disebut ontologia, sehingga ontologi bermakna teori keberadaan sebagaimana keberadaan tersebut. Ontologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang esensi segala sesuatu. Ontologi merupakan bagian dari metafisika yang merupakan bagian dari filsafat; dan membahas teori keberadaan seperti keberadaan dan karakteristik esensial keberadaan. (Ja’far,2016:105)
            Para sufi awal memang lebih banyak memfokuskan kepada masalah pendekatan kepada Allah SWT, tetapi belakangan mereka meluaskan objek kajian tasawuf sampai kepada persoalan wujud, selain tasawuf juga mulai bersinggungan dengan filsafat, sehingga mereka tidak saja membahas dan menyimak hakikat wujud – Nya, tetapi juga wujud alam dan manusia. Dari aspek ini, akan dapat dilihat titik singgung antara tasawuf dengan saintis, sebab tasawuf bukan hanya membahas tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Allah SWT atau hakikat wujud – Nya, tetapi juga memberikan perspektif tasawuf mengenai hakikat alam dan manusia, sebagaimana sains juga hendak mengkaji dan menelaah fenomena – fenoma alam, terutama berbagai persoalan tentang mineral, tumbuhan, hewan, dan manusia. Tentu saja, gagasan kaum sufi dinilai akan memberikan kontribusi dan pengayaaan perpektif dalam upaya memahami dunia fisik tersebut. (Ja’far,2016:106)
Pandangan ontologis demikian diharapkan dapat menumbuhkan sikap etis bagi ilmuwan maupun agamawan untuk ‘rendah hati’ dalam menyikapi kebenaran, yaitu bahwa kebenaran yang saya pahami hanyalah satu potong puzzle dari gambar keseluruhan alam semesta. Beragam pandangan para ilmuwan maupun agamawan yang lain dapat dipandang sebagai potongan-potongan puzzle yang berguna untuk saling melengkapi pemahaman akan kebenaran mutlak. Penjelasan ini menegaskan bahwa wujud ilmu dan agama dalam dirinya sendiri tidak mengalami konflik jika ada konflik sesungguhnya bukan konflik antara ilmu dan agama, tetapi konflik pemahaman ilmuwan dan agamawan.
          Saintis muslim sebagai peneliti alam empiric harus menyadari bahwa alam merupakan ciptaan dan manifestasi Allah SWT; dan ajaran islam mengajarkan bahwa alam merupakan tanda – tanda keberadaan dan kekuasaan – Nya, sehingga penelitian terhadap alam diharapkan dapat menumbuhkan dan memperkokoh keimanan terhadap – Nya, bukan menjauhkan manusia dari – Nya sebagaimana ditemukan dalam banyak teori ilmuan – ilmuan barat – sekular. (Ja’far,2016:107)

B.  Integrasi dalam Ranah Epistemologi
      Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, espiteme yang bermakna pengetahuan, dan logos yang bermakna ilmu atau eksplanasi, sehingga epistemologi berarti teori pengetahuan. Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok epistemology adalah makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan, dan hal – hal yang dapat diketahui. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan ilmu. (Ja’far,2016:107-108)
      Kajian – kajian ilmu – ilmu alam mengandalkan metode observasi dan eksperimen yang disebut dalam epistemologi islam sebagai metode tajribi, sedangkan kajian tasawuf mengandalkan metode irfani yang biasa disebut metode tazkiyah al nafs. Meskipun ada perbedaan metode, tetapi kedua metode bisa melengkapi dan mendukung satu sama lain. (Ja’far,2016:108)
        Dari aspek ini, saintis muslim, meskipun lebih banyak mengedepankan metode tajribi dalam mengembangkan ilmu – ilmu alam, tetap perlu mengambil metode tasawuf dalam menemukan ilmu dan kebenaran, dimana kaum sufi mengutamakan metode tazkiyah al nafs dengan melaksanakan berbagai ritual ibadah termasuk zikir, serta melakukan prakti riyadhah dan mujahadah. Dari perspektif islam, kesucian jiwa manusia menjadi syarat utama memperoleh ilmu secara langsung dari sumber asalnya, yaitu Allah SWT yang diketahui memiliki sifat al – Alim. (Ja’far,2016:109)

C. Integrasi dalam Ranah Aksiologi
            Istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan logos yang berarti teori. Aksiologi bermakna teori nilai, investigasi terhadap asal, criteria, dan status metafisik dari nilai tersebut. Aksiologi disebut dengan teori nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir dari segala sesuatu. Jadi, aksiologi membahas tentang nilai kegunaan ilmu, tujuan pencarian dan pengembangan ilmu, kaitan antara penggunaan dan pengembangan ilmu dengan kaedah moral, serta tanggung jawab sosial ilmuan. Kajian aksiologi lebih ditujukan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu, dan etika akademik ilmuan. (Ja’far,2016:110)
            Dari aspek etika akademik, nilai – nilai luhur tasawuf dapat menjadi landasan etis seorang ilmuan dalam pengembangan sains dan teknologi. Konsep al maqamat dan al ahwal dapat menjadi semacam etika profesi seorang saintis sebagai ilmuan muslim. Sekedar contoh, seorang saintis muslim sebagaimana ilmuan muslim klasik, harus menampilkan kehidupan sufistik seperti sikap zhud, wara’, sabar, tawakal, cinta, fakir, dan rida dalam menjalankan kegiatan akademik maupun dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, saintis muslim masa depan dituntut untuk mengail kearifan dalam ajaran tasawuf, dan dapat menginternalisasikannya dalam kehidupan akademik dan sosialnya. (Ja’far,2016:110-111)
            Berbicara tentang ilmu tidak hanya berbicara masalah nilai kebenaran (logis) saja, namnun juga nilai-nilai yang lain. Dengan kata lain, yang benar harus juga yang baik, yang indah dan yang ilahiah. Pandangan bahwa ilmu harus bebas nilai disatu sisi telah mengakselerasi secara cepat perkembangan ilmu namun disisi yang lain telah menghasilkan dampak negatif  yang sangat besar. Berbagai problem keilmuan terutama aplikasinya dalam bentuk teknologi telah menghasilkan beragam krisis kemanusiaan dan lingkungan, oleh karena diabaikannya berbagai nilai diluar nilai kebenaran.
              Integrasi antara Ilmu dan Agama. Ilmu dan agama bukan sesuatu yang terpisah dan bukan sesuatu yang satu berada diatas yang lain. Pandangan bahwa agama lebih tinggi dari ilmu adalah pengaruh dari konsep tentang dikotomi ilmu dan agama. Ilmu dianggap sebagai ciptaan manusia yang memiliki kebenaran relatif yang oleh karenanya memiliki posisi lebih rendah dibandingkan agama sebagai ciptaan tuhan yang memiliki kebenaran absolut.


KESIMPULAN
            Dari pembahasan kita mengetahui bahwa Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi memiliki pengertian tentang keilmuan. Ontologi bermakna ilmu tentang keberadaan dan realitas lalu epistemologi ilmu tentang ilmu untuk mempelajari ilmu, sedangkan aksiologi adalah ilmu tentang teori nilai. Dalam mengintegrasi sains kedalam 3 dasar ilmu ini, memiliki cara yang berbeda. Untuk ontologi kita bisa memakai metode pendekatan dan mengkaitan agama dengan keberadaan sains yang sudah ada. Untuk epistemologi kita bisa menggunakan metode tajribi atau metode observasi untuk mengetahui apakah agama menyinggung tentang sains yang ditemukan para ilmuan. Untuk aksiologi kita bisa mengguankan metode metode ilmiah untuk mengetahui kegunaan sains yang sudah ditemukan apakah berguna untuk agama dan masa depan.

RELEVANSI DENGAN BIDANG
           
Relevansi akhlak tasawuf oleh seorang programer kita harus dapat mengintegrasikan ilmu yang kita miliki dengan ajaran agama kita, serta kita juga harus lebih bisa mengembangkan kemajuan teknologi sekarang ini yang lebih mendukung dan lebih bisa menguatkan agama kita.

Minggu, 11 Desember 2016

BIOGRAFI ABDUL QADIR JAELANI

IDENTITAS
Nama                        : Maulana Ikhsan        
NIM                          : 72154031
Prodi/Sem.                 : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                     : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi         : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu        : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah                  : Akhlak Tasawuf

TEMA                       : Biografi Tokoh Sufi


ABDUL QADIR JAELANI

Abdul Qadir Jaelani atau Abd al-Qadir al-Gilani (bahasa Kurdi: Evdilqadirê Geylanî, bahasa Persia: عبد القادر گیلانی, bahasa Urdu: عبد القادر آملی گیلانی Abdolqāder Gilāni) (470–561 H) (1077–1166 M) adalah seorang ulama fiqih yang sangat dihormati oleh Sunni dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme. Ia lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470 H, 1077 M. Selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran. Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.
Nama lengkap Syeikh Abdul Qadir al-Jailani adalah, Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu Shalih Musa Jankidaous bin Musa al Tsani bin Abdullah bin Musa al Jun bin Abdullah al Mahdhi bin Hasan al mutsanna bin Hasan bin Ali ra.,bin Abu Thalib.[1]
Ibunya, Syarifah Fatimah binti Sayid Abdillah al-Shuma’i al-Zahid bin abi Jamaluddin Muhammad bin Sayid Thahir bin Sayid abi al-Atha’ Abdullah bin Sayid Kamaluddin Isa bin Alauddin Muhammad al-Jawad bin Sayid Ali Rihda bin Sayid Musa al-Khadim bin Sayid Ja’far al-Shadiq bin Sayid Muhammad al-Baqir bin Sayid Zainal Abidin bin Sayid al-Husain bin Sayid Ali bin Abi Thalib ra.[2]

Masa Muda
Dalam usia 18 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad dia belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat dia. Banyak pula orang yang bersimpati kepada dia, lalu datang menimba ilmu di sekolah dia hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.

Kepribadian
Aktifitas keseharian al-Jailani hampir tidak mengenal istirahat. Di siang dan malam hari ia selalu mengadakan pengajian. Materi yang disampaikan meliputi : Tafsir, Hadist, Ushu Fiqh dan ilmu lain yang berkaitan dengannya. Seusai shalat dhuhur ia memberikan fatwa yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum. Di sore hari sebelum shalat maghrib, ia membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah shalat maghrib ia selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun. Sebelum berbuka ia menjamu makan malam tetangganya. Sesudah shalat isya’ ia beristirahat sejenak di kamarnya sebagaimana layaknya tradisi para wali. Ia mencurahkan waktu siang harinya untuk mengabdi pada umat manusia, semeentara di malam harinya untuk mengabdi pada penciptanya.[3]
Al-Jailani  mempunyai kepribadian yang tinggi. Ia sangat rendah hati (tawadhu’) kapada sesamanya. Akhlaqnya mulia dan lapang dada. Kerendahan hatinya bisa ditandai dengan keakrabannya dalam pergaulannya dengan anak-anak, para fakir miskin dan tetangganya. Ketaqwaannya kepada Allah SWT., senantiasa tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.
Beliau pernah mengatakan, bahwa amal yang paling utama adalah memberi makan kepada miskin, dan paling mulia adalah berbudi luhur. Selanjutnya ia mengatakan, seandainya dunia ini menjadi miliknya, maka akan diberikan kepada yang lapar. Dan disebutkan dalam “Qalaid al-Jawahir”, bahwa setiap malam ia menyuruh membentangkan tikar untuk makan bersama-sama tamu dan bergaul bersama kaum lemah.[4]

Murid
Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.

Perkataan Ulama tentangnya
Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama dia selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai dia meninggal dunia. Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Kami sempat berjumpa dengan dia di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang dia mengutus putra dia yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam salat fardhu."

Karya
Imam Ibnu Rajab juga berkata, "Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah."
Karya karyanya:
  1. Tafsir Al Jilani
  2. al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
  3. Futuhul Ghaib.
  4. Al-Fath ar-Rabbani
  5. Jala' al-Khawathir
  6. Sirr al-Asrar
  7. Asror Al Asror
  8. Malfuzhat
  9. Khamsata "Asyara Maktuban
  10. Ar Rasael
  11. Ad Diwaan
  12. Sholawat wal Aurod
  13. Yawaqitul Hikam
  14. Jalaa al khotir
  15. Amrul muhkam
  16. Usul as Sabaa
  17. Mukhtasar ulumuddin
Awal Kemasyhuran
Al-Jaba'i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, "Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushola. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum.
Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata, "Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu" jawab suara itu.
Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.

Hubungan Guru & Murid
  1. Syeikh Abdul Qadir berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.
  2. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
  3. Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut.
  4. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
  5. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar.
  6. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
  7. Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.
Syeikh Abdul Qadir berkata, "Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut". Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya pada tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.


[1] Al-Barzanji, Al-Lujjain Al-Dain, terjemah Muslih Abdurrahman, Al-Burhani, jilid II (Semarang : Toha
   Putera, tt), hal. 14, (lihat lampiran)
[2] Ibid., hal 20-21
[3] An_Nadwi,  Op.Cit., hal. 254.
[4] Ibid. hal. 255.

Mengenal al-Ahwal : Muraqabah dan Khauf



IDENTITAS
Nama                        : Maulana Ikhsan        
NIM                          : 72154031
Prodi/Sem.                 : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                     : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi         : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu        : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah                  : Akhlak Tasawuf

TEMA                       : Mengenal al-Ahwal: Muraqabah dan Khauf

BUKU                                               
Identitas Buku             : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
                                     Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)
1.      Al-Ahwal
Sebagaian sufi pernah menyebutkan bahwa beberapa contoh al-Ahwal  adalah al-muraqobah,al-Khuf,al-Raja’,dan Rindu (al-syawq). Berbeda dari al-Maqamat yang diraih dari hasil usaha salik secara mandiri dengan melakukan ibadah,mujahadah, dan Riyadhah al-ahwal tidak diraih secara mandiri, melainkan anugrah dari Alloh Swt.dan keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik.(Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 85. 2016).

2.       Al-Muraqobah
Ajaran muraqobah merupakan salahsatu bentuk dari al-ahwal kata al-muraqobah memang tidak digunakan dalam alquran katalainnya antara lain Raqiba, menurut alqusyari,muraqobah didasari oleh Qs al Ahzar/33;52,serta gadist nabi Muhammad Saw,mengenai al-iman,al-ihsan dan al-ihsan,makna al-ihsan (fa’illam takun tarahu fa innahu  yaraka) merupakan isyarat al muraqobah yang merufakan ilmu hamba melihat Allah Swt,dan Allah maha mengawasi,mengetahui keadaannya,melihat perbuatannya,dan mendengar ucapannya,seorang hamba memiliki Al-muraqobah yakni keyakinan seorang salik  bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah Swt,dalam berbagai aktivitas ,sehinnga ia hanya akan melakukan amal kebaikan dalam hidupnya,dan membenci, dan tidak akan melakukan perbuatan maksiat dan dosa. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 86. 2016).

3.      Al-Khauf
Hakikat takut (Al-khauf)di jelaskan berulangkali dalam al-quran, kata takut disebut Al-quran baik dalam bentuk al-kauf maupun dalam bentuk al-khasyia. Hakikat khauf dijelaskan secara berulang kali dalam Al-qur’an, dalam bentuk al-khaufdisebut alqur’am sebanyak 124 kali, terutama dalam bentuk khaufun, yukhafuna, dan akhafun, sedangkan dalam bentuk yakhsya, khasyiya dengan berbagai bentuknya disebut 48 kali.  Dalam Q.S. Ali Imran/3:175, Allah Swt Berfirman yang artinya:      
 Sesungguhnya mereka itu tidaklain hanyalah setan yang menakut-nakuti(kamu) dengan kawan-kawannya(orang-orang musyrik quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-ku, jika kamu benar-benar orang beriman.
Para sufi telah membicarakan masalah al-khauf dalam karya-karya mereka. Menurut al-qusyairi, makna takut kepada Allah Swt. Adalah takut kepada siksaanya, baik di dunia maupun di akhirat. Khauf memiliki dua bentuk: rahbah yakni orang yang berlindung kepada Allah Swt, dan khasyyah yakni orang yang ditarik kendalu ilmu dan melaksanakan kebenaran. Berdasarkan pendapat mereka, al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Allah Swt, dan tidak takut kepada     selain nya. Takut kepada Allah swt adalah takut atas siksaannya, sehingga seorang hamba akan melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangannya. (DR.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 86-88-2016).
Menurut al-Qusyairi,makna takut kepada Alloh Swt yaitu takut kepada siksaannya baik di dunia maupun akhirat menurut Abu ,Al qasim Al-hakim mengatakan khauf memiliki dua bentuk
a. Rahbah (orang yang berlindung kepada Allah)
b. Khasyyah ( orang yang ditarik ilmu dan melakukan kebenaran )
Menyimpulkan poendapat mereka al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Alloh Swt dan tidak takut kepada selainnya.takut kepada Allah Swt adalah takut atas siksaannya sehingga seorang hamba , sehingga seorang hamba akan melakukan  semua perintah menjauhu segala larangannya.

4.      Harap ( al-Rajak)
Hakikat harap (al-raja’) dapat ditemukan secara mudah dalam Al-qur’an. Diantaranya dalam Q.S.al-Baqarah/2:218;. Dan Q.S. al-Zumar/39:53.menurut al-qusyairi, raja’ adalah ketergantungan hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi dmasa yang akan dating. Abd Allah bin Khubiq berkata Raja’ terdiri atas tiga bentuk: orang yangmengerjakan pekerjaan baik dan berharap dapat diterima; orang yang mengerjakan perbuatan jahat dan bertobat, dan berharap mendapatkan ampunan; danorang yang berdusta dan tidak mengulangi dosa, seraya mengharapkan ampunan. Jadi konsep al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada Allah Swt. Berharap semua amal, tobat, dan ampunannya diterima Allah Swt. (Dr.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 89-2016).

5.      Rindu (Al-syawq)
Menurut al-Ghazali, orang yang memungkiri hakikat cinta kepada Allah swt, maka pasti ia akan memungkiri hakikat rindu. Apabila seorang hamba mencintai Allah Swt, maka ia pasti akan merindukan untuk bertemu dan melihatnya. Allah Swt berfirman dalam Q.S. al-Ankabut/29:5 yang artinya:
Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti dating. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui.
Para sufi telah menjelaskan makna rindu dalam karya-karya mereka. Al-qusyairi, misalnya, mengatakan bahwa rindu adalah keguncangan hati untuk menemui yang dicintai (Allah Swt). Cinta sangat bergantung kepada rindu. Abu ali al-daqaq menatakan bahwa al-syawq adalah kerinduan yang bisa reda dengan bertemu dan melihat (Allah Swt). Dua pendapat sufi ini menegaskan bahwa rindu merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan melihat kekasih sejatinya, yakni Allah Swt.(Dr.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 89-90-2016).

Kesimpulan :
Dalam berbagai aktivitasnya ia akan melakukan amal kebaikan dalam hidupnya, dan membenci dan tidak akan ingin melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Dan al-khauf berarti seorang hamba hanya takut kepada Allah Swt, dan tidak takut kepada  selain nya. Takut kepada Allah SWT adalah takut atas siksaannya, sehingga seorang hamba akan melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangannya. al-raja’ bermakna harapan seorang sufi kepada Allah Swt. Berharap semua amal, tobat, dan ampunannya diterima AllahSwt. Sedangkan Al-syawq  merupakan keinginan kuat hati untuk menemui dan melihat kekasih sejatinya yakni Allah SWT.

Relevansi dengan bidang :
Sebagai Seorang Programmer Muslim/ah kita selalu melakukan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT dan senantiasa berharap apa yang kita kerjakan diterima Allah Swt. dan bersungguh-sungguh menuntut ilmu,baik itu ilmu dunia maupun akhirat, kita harus bisa menyeimbangkan dunia dan akhirat agar kita tidak tersesat ke jalan yang salah. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.