Minggu, 27 November 2016

Kefakiran, Sabar dan Tawakal



IDENTITAS
            Nama                           : Maulana Ikhsan
            NIM                            : 72154031
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi           : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu          : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                    : Akhlak Tasawuf

TEMA                         : Kefakiran, Sabar dan Tawakal

BUKU                                                
     Identitas Buku               : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
                                           Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)

A. Kefakiran ( Al – Faqr)
Istilah faqr bermakna kemiskinan. Dalam bahasa indonesia, fakir berarti orang yang sangt berkekurangan, orang yang terlalu miskin, atau orang yang dengan sengaja membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin. Menurut Al-Ghazali, fakir dapat bermakna tidak memiliki harta. Menurutnya, ada lima tingkatan fakir, dua diantaranya yang paling tinggi derajatnya, yakni seorang hamba yang tidak suka diberi harta, merasa tersisksa dengan harta, dan menjaga diri dari kejahatan dan kesibukan untuk mencari harta dan seorang hamba tidak merasa senang bila mendapatkan harta, dan tidak merasa benci bila tidak mendapatkan harta. (Ja’far, Gerbang Tasawuf).

Mengenai makna fakir, al – kalabazi berkata “fakir adalah orang tidak boleh mencari mata pencaharian kecuali orang itu khawatir tidak mampu melaksanakan tugas keagamaa1. Al – Nuri berkata “fakir adalah orang yang harus bungkam ketika tidak memiliki sesuatu, bermurah hati dan tidak hanya memikirkan diri sendiri jika memiliki sesuatu2. Menurut Nashr al – Din al – Thusi, fakir dalam kajian tasawuf adalah “seseorang tidak memiliki kecintaan terhadap kekayaan dan hiasan duniawi, dan jika ia memilikinya maka ia tidak berkeinginan untuk menyimpan dan mengumpulkannya3.

Sedangkan menurut al –Ghazali, fakir dapat bermakna tidak memiliki harta. Menurutnya, ada lima tingkatan fakir, dua diantaranya yang paling tinggi derajatnya, yakni seorang hamba yang tidak suka diberi harta, merasa tersiksa dengan harta, dan menjaga diri dari kejahatan dan kesibukan untuk mencari harta, dan seorang hamba tidak merasa senang bila mendapatkan harta dan tidak merasa benci bila tidak mendapatkan harta4.
B.   Sabar ( Al – Shabr)
Kata sabar berasal dari bahasa Arab, shabara, yashbiru, shabran, maknanya adalah mengikat, bersabar, manahan diri dari larangan hukum, dan menahan diri dari kesedihan. Dalam bahasa indonesia, sabar bermakna tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan tabah, tenang, tidak tergesah-gesah, dan tidak terburu nafsu. Mengenai makna sabar meurut kaum sufi awal , Dzun al-Nun al-Mishri, misalnya, pernah mengatakan bahwa sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan, dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran dalam kehidupan. (Ja’far, Gerbang Tasawuf).

Menurut Nashr al – Din al –Thusi, sabar secara harfiah bermakna “mencegah jiwa dari perasaan waswas ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan”. Al – Thusi membagi sabar menjadi tiga jenis : sabar kaum awam, yakni menjaga jiwa agar tetap kokoh dalam kesabaran dan tetap kinsisten dalam kekuatannya. Kesabaran kaum Zuhud, yakni rasa takut dan sikap sabar kepadea Allah dalam harapan untuk memperoleh ganjarang di akhirat. Dan kesabaran ahli hikmah, yakni merasakan kebahagian walaupun ditimpa musibah5.

Al – Ghazali, Ibn Qudamah dan Ibn Qayyim al –Jauziyah membagi sabar menjadi tiga : sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari godaan untuk melakukan perbuatan maksiat dan sabat atas musibah dari Allah Swt.

C.   Tawakal (Al – Tawakkul)
        Dalam bahasa indonesia, tawakal adalah pasrah diri kepada kehendak allah, percaya dengan sepenuh hati kepada Allah (dalam penderitaan dan sebagainya),atau sesudah berikhtiar baru berserah kepada Allah. Dalam karya-karya Tasawuf, para sufi telah memberikan penjelasan mengenai makna tawakal. Salah satu diantaranya adalah menurut Hamdun al-Qashshar berkata, tawakal adalah berpegang teguh kepada Allah Swt. (Ja’far, Gerbang Tasawuf).

Abu Ali al – Daqaq berkata, “tawakal kepada Allah Swt. Memiliki tiga tingkatan, yakni tawakal, taslim dan tafwidh. Orang yang tawakal adalah orang yang merasa tenang dengan janji Allah Swt. Orang yang taslim adalah orang yang merasa cukup dengan ilmu –Nya. Orang yang tafwidh adalah orang yang rela dengan hukum –Nya. Jadi tawakal adalah permulaan, taslim adalah pertengahan, dan tafwidh adalah akhir6.

Menurut Ibn Qudamah, ada tiga derajat tawakal: menyerahkan diri hanya kepada Allah Swt. Dan selalu mengharapkan pertolongan –Nya, pasrah dan tidak bersandar kecuali hanya kepada Allah seperti seorang anak yang hanya bersandar kepada ibunya, dan tidak berpisah dengan Allah Swt. Dan melihat diri sendiri seperti orang yang mati dengan posisi seperti kepasrahan mayit ditangan orang – orang yang memandikannya. Akan tetapi, tawkal tidak menafikan usaha, sebab menjadi sangat penting dalam islam7.

Kesimpulan 
Bersifat fakir, sabar dan tawakkal merupakan tingkatan selanjutnya yang disepakati beberapa para sufi dalam urutan tingkatan maqam. Fakir dalam tingkatan ini bukanlah sifat yang paling rendah di lingkungan sosial, melainkan sifat untuk bersikap sederhana meninggalkan kemewahan dan berusaha untuk tidak memikirkan kehidupan dunia semata karna harta. Karna seorang sufi sangat khawatir akan harta yang dia miliki karna suatu saat nanti akan dipertanggung jawabkan atas harta yang dia miliki.

Relevansi Dengan Bidang Akhlak Tasawuf  
Sebagai seorang program kita tidak perlu memiliki segala sesuatu yang dimiliki dengan orang lain, sebagai seorang program kita tidak perlu memiliki sikap yang mewah karna pekerjaan sebagai seorang programmer pasti akan dibutuhkan oleh beberapa perusahan. Dan bersikap sabar sebagai seorang programmer merupakan kunci utama bagi kami, karna bersikap sabar sangat dibutuhkan dalam segala hal dan perbuatan salah satunya dalam pembuatan program yang menghadapi beberapa masalah coding yang error. Jadi, sabar merupakan kunci keberhasilan sebagai program dan yang terakhir bersikap tawakkal bagi seorang programmer merupakan tindakan selanjutnya setelah bersikap sabar yang mana sebagai seorang programmer harus ikhlas dalam membuat suatu program, berharap program yang telah dirancang akan berhasil dan akan banyak dipakai banyak user. Jadi bersikap tawakkal merupakan sikap penunjang setelah bersikap sabar bagi seorang programmer.

1.          Al – Qusyairi, Risalah al – Qusyairiyah, h. 91 – 92
2.          Al – Ghazali, Ihya’ Ulum al – Din, Jus 4, h. 2 – 58
3.          Renard, Historical Dictionary of Sufism, h. 199 – 200
4.          Al – Qusyairi, Risalah al –Qusyaitiyah, h. 110
5.          Ibn Qayyim al – Jauziyah, Madarij al – Salikin, Jus 1, h. 445 – 452
6.          Al – Baqi, al – Mu’ajm al – Mufahras li Alfazh al – Qur’an al – Karim, h. 422
7.          Al – Kalabazi, Ta’aruf li Mazhab, h. 93

Tidak ada komentar:

Posting Komentar