Minggu, 20 November 2016

Tobat, Wara' Dan Zuhud


IDENTITAS
Nama                              : Maulana Ikhsan
NIM                                 : 72154031
Prodi/Sem.                     : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                          : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi         : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu         : Dr. Ja’far, MA
Mata kuliah                   : Akhlak Tasawuf
                                       
 TEMA                            : Tobat, Wara’ dan Zuhud   

 BUKU                                               
 Identitas Buku             : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
                               Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)


1.        TOBAT

Dalam Bahasa Indonesia, tobat bermakna  “sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.”Maqam tobat (al-taubah) merupakan maqam pertama yang harus dilewati setiap salik dan diraih dengan menjalankan ibadah, mujahadah, dan riyadhah. Hampir semua sufi sepakat bahwa tobat adalah maqam pertama yang harus diperoleh setiap salik. Istilah tobat berasal dari bahasa arab, taba, yatubu. Tobatan, yang berarti kembali, dan disebut oelh Al-Quran sebanyak 87 kali dalam berbagai bentuk. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 57. 2016).

Salah satu unsur taubat yang harus dipenuhi adalah adanya penyesalan diri atas dosa-dosa yang dilakukan kepada Allah s.w.t. Sebagaimana yang dikatakan al-Qusyairi, "Menyesali kesalahan adalah cukup untuk memenuhi syarat pertaubatan", demikian kata mereka yang telah melaksanakannya, kerana tindakan tersebut mempunyai akibat berupa dua syarat yang lain. Artinya, orang tidak mungkin bertaubat dari suatu tindakan yang tetap dilakukan atau yang ia mungkin bermaksud melakukannya. Inilah makna taubat secara umum.


Dalam konsep Ibn ‘Atha ‘Allah, ada beberapa hal yang harus dilakukan seseorang untuk menjalani taubat, antara lain: merenung dan berinstropeksi tentang panjang umur yang telah dijalaninya; merenung apa yang telah diperbuat dalam satu hari, baik yang berkaitan dengan ketaatan maupun kemaksiatan. Ketika seseorang mendapatkan ketaatan, maka bersyukurlah kepada Allah. Namun sebaliknya, jika ia mendapatkan kemaksiatan, maka hendaknya ia mencela dirinya sendiri, serta segera memohon ampun dan ber-taubat kepada Allah Swt. dengan penuh penyesalan, sedih dan merasa hina. (Ibn ‘Atha’ Allah al-Sakandari. 11).

2.    WARA'

Wara’ merupakan sebuah tingkatan dalam tasawuf yang menurut sebagian orang rendah namun dalam penerapannya sangat sulit. Ini dikarenakan hal-hal yang termasuk dalam lingkup wara’ cenderung terabaikan.
       
Kata warak berasal dari bahasa arab, wara’a, yari’u, wara’an yang bermakna berhati-hati, tetapi dalam kamus bahasa Indonesia, warak bermakna “patuh dan taat kepada Allah”. Di dunia tasawuf, kata warak ditandai dengan kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi. Meskipun istilah ini tidak ditemukan dalam Al-Quran, tetapi semangat dan perintah untuk bersikap warak dapat dan mudah ditemukan didalamnya, dan banyak hadis Nabi Muhammad Saw menggunakan istilah warak. . (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 62. 2016)

Dalam Sunan Ibn Majah, misalnya  disebutkan :
“Dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw. Berkata wahai Abu Hurairah, jadilah seorang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang utama. Jadilah orang yang menerima apa adanya (qana’ah), maka engkau akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah seseorang sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi mukmin yang sebenarnya. Perbaguslah hubungan tetangga bagi orang yang bertetangga kepadamu, maka engkau akan menjadi muslim yang sebenarnya. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati”

Wara’ menjadi penting untuk dibicarakan mengingat wara’ sendiri mempunyai ruanglingkup dan persoalan yang berkaitan erat dengan tindakan atau tingkah laku seseorang baik lahir maupun batin, yang ingin mendekatkan dirinya pada keridhaan Allah swt, agar pengabdian seorang manusia betul-betul maksimal dan terjaga dari segalah hal sekecil apapun yang mengakibatkan kegagalan dalam pengabdian.

Para ahli tasawuf membagi wara’ pada dua bagian, yaitu wara’ yang bersifat lahiriyah dan wara’ batiniyah. Wara’ lahiriyah berarti meninggalkan segala hal yang tidak diridhai Allah, sedangkan wara’ batiniyah berarti mengisi atau menempatkan sesuatu di hatinya kecuali Allah.

Seorang sufi yang wara’ akan senantiasa menjaga kesucian baik jasmani maupun rohaninya dengan mengendalikan segala perilaku aktifitas kesehariannya. Ia hanya akan melakukan sesuatu jika sesuatu itu bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Dan ia tidak akan menggunakan sesuatu hal yang belum jelas statusnya. Dengan demikian maka raga dan jiwanya senantiasa terjaga dari hal-hal yang tidak dirdhai Allah swt. Jika dikaji lebih mendalam, apa yang dilakukan oleh sufi dengan wara’ bahwa sufi tidak melihat suatu benda atau perilaku seseorang dari wujud kasarnya atau keelokan rupanya. Namun seorang sufi melihat sesuatu baik benda perilaku, maupun gagasan atau pemikiran dari nilai yang terkandung di dalamnya tanpa melihat bentuk fisik. Para sufi menjadikan nilai sebagai hal yang substansial.

Sementara kekayaan, gelar, jabatan, atau status social lainnnya bagi seorang sufi bukanlah hal yang menentukan kualitas seseorang di mata Allah. Yang menentukan derajat seseorang adalah sejauh mana segala hal tersebut mengandung nilai-nilai. Nilai yang dapat mensucikan diri dari kotoran yang telah menjauhkannya dari kodrat asal penciptaannya yang paling sempurna dibanding makhluk lain (Ibn ‘Atha’ hlam 33).


3.        ZUHUD

         Kata zuhud berasal dari bahasa arab, zahada, yazhudu, zuhdan yang artinya menjauhkan diri, tidak jadi berkeinginan, dan tidak tertarik. Dalam bahasa Indonesia, zuhud berarti “perihal meninggalkan keduniawian, pertapaan”. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 63. 2016).

Inilah pentingnya makna Zuhud dalam kehidupan umat manusia, adanya keseimbangan (tawazun) antara kehidupan dunia dan akhirat, kebutuhan fisik (jasamani) dan psikis (ruhani). Inilah solusi bagi umat manusia dan orang yang beriman agar mendapat kehidupan dunia dan akhirat yang hasanah. Konsep Zuhud inilah yang amat penting diamalkan oleh setiap pribadi muslim.
Dampak negatif dunia yang didukung dengan kemajuan teknologi menyebabkan akses-akses kejahatan dan kezhaliman menjadi mudah. Kenyataan ini menyebabkan seorang hamba yang menghayati nilai ajaran Zuhud semakin berhati-hati dalam menempuh berbagai keputusan dalam kehidupannya. Dengan konsep zuhud seseorang akan mendapatkan energi untuk senantiasa berhati-hati dengan kehidupan dunia, karena kehidupan dunia ini banyak mengandung ujian. Ketika konsep ini dipahami dan dihayati maka ia akan terus melangkah meniti Shirotol Mustaqim. Cita-cita dan harapan serta paradigma berfikirnya akan jauh menjangkau kepada hari keabadian. Ia tidak silau dengan gemerlap duniawi sebab akhirat itu lebih baik dan kekal [wal aakhirotu khoyruw wa abqoo].

Kehidupan dunia dan akhirat yang hasanah merupakan cita dan harapan besar bagi orang-orang yang zuhud. Ketika kita terus memahami konsep zuhud, kita akan senantiasa menjadi hamba yang penuh ampunan dan ridha Allah SWT.


KESIMPULAN

Ketiga maqom tersebut merupakan hal yang saling berkaitan. Karena tingkatan untuk mencapai derajat tertinggi di hadapan Allah. Dengan bertaubat disertai dengan zuhud dan wara’ maka akan menghasilkan taubat yang sesungguhnya yang berdampak positif bagi pelakunya untuk merubahnya menjadi hamba yang lebih baik.   Karena, dalam meraih kedudukan untuk dekat terhadap Sang Khalik adalah dengan menyadari perbuatan – perbuatannya yang telah menjauhkan dirinya dari Sang Pencipta, dengan menyadari kesalahan yang telah diperbuat selama ini maka seorang zahid tersebut dapat memohon ampun kepada Allah dan menyesali perbuatan tersebut dan tidak akan kembali lagi terhadap dosa yang telah diperbuatnya terdahulu. Sehingga urutan – urutan dalam maqam akan dapat dilewati dengan hati yang lapang dengan tujuan untuk mendapatkan kedudukan yang dekat terhadap sang Khalik atau sang Pencipta.



RELEVANSI DALAM BIDANG

Dari ketiga urutan tersebut, sebagai seorang muslim/ah programmer kita harus menyadari perbuatan salah apa yang telah kita lakukan selama ini, kita sesali perbuatan apa yang merugikan kita selama ini dan bertekad untuk tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk mendapatkan dosa yang sama dengan apa yang kita perbuatan selama ini. Dan sebagai seorang muslim/ah programmer kita juga harus dapat bersikap berhati –hati dalam mengambil suatu tindakan dan tidak akan terjerumus kedalam hal yang salah dan mengikuti kemauan dari musuhnya umat manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar