IDENTITAS
Nama :
Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan
Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen
Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Mata kuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Tobat, Wara’ dan Zuhud
BUKU
Identitas Buku
: Ja’far, Gerbang
Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)
1.
TOBAT
Dalam Bahasa Indonesia, tobat bermakna “sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah
atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.”Maqam
tobat (al-taubah) merupakan maqam pertama yang harus dilewati setiap salik dan
diraih dengan menjalankan ibadah, mujahadah, dan riyadhah. Hampir semua
sufi sepakat bahwa tobat adalah maqam pertama yang harus diperoleh setiap
salik. Istilah tobat berasal dari bahasa arab, taba, yatubu. Tobatan, yang
berarti kembali, dan disebut oelh Al-Quran sebanyak 87 kali dalam berbagai
bentuk. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 57. 2016).
Salah
satu unsur taubat yang harus dipenuhi adalah adanya penyesalan diri atas
dosa-dosa yang dilakukan kepada Allah s.w.t. Sebagaimana yang dikatakan
al-Qusyairi, "Menyesali kesalahan adalah cukup untuk memenuhi
syarat pertaubatan", demikian kata mereka yang telah
melaksanakannya, kerana tindakan tersebut mempunyai akibat berupa dua syarat
yang lain. Artinya, orang tidak mungkin bertaubat dari suatu tindakan yang
tetap dilakukan atau yang ia mungkin bermaksud melakukannya. Inilah makna
taubat secara umum.
Dalam konsep Ibn ‘Atha
‘Allah, ada beberapa hal yang harus dilakukan seseorang untuk menjalani taubat,
antara lain: merenung dan berinstropeksi tentang panjang umur yang telah
dijalaninya; merenung apa yang telah diperbuat dalam satu hari, baik yang
berkaitan dengan ketaatan maupun kemaksiatan. Ketika seseorang mendapatkan
ketaatan, maka bersyukurlah kepada Allah. Namun sebaliknya, jika ia mendapatkan
kemaksiatan, maka hendaknya ia mencela dirinya sendiri, serta segera memohon
ampun dan ber-taubat kepada Allah Swt. dengan penuh penyesalan, sedih dan
merasa hina. (Ibn ‘Atha’ Allah al-Sakandari. 11).
2. WARA'
Wara’ merupakan sebuah tingkatan dalam tasawuf yang menurut
sebagian orang rendah namun dalam penerapannya sangat sulit. Ini dikarenakan
hal-hal yang termasuk dalam lingkup wara’ cenderung terabaikan.
Kata warak berasal dari bahasa arab, wara’a, yari’u, wara’an
yang bermakna berhati-hati, tetapi dalam kamus bahasa Indonesia, warak bermakna
“patuh dan taat kepada Allah”. Di dunia tasawuf, kata warak ditandai dengan
kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi. Meskipun istilah ini tidak ditemukan
dalam Al-Quran, tetapi semangat dan perintah untuk bersikap warak dapat dan
mudah ditemukan didalamnya, dan banyak hadis Nabi Muhammad Saw menggunakan
istilah warak. . (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 62. 2016)
Dalam
Sunan Ibn Majah, misalnya disebutkan :
“Dari
Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw. Berkata wahai Abu Hurairah, jadilah
seorang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang utama. Jadilah orang yang
menerima apa adanya (qana’ah), maka engkau akan menjadi manusia yang paling
bersyukur. Cintailah seseorang sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri,
maka engkau akan menjadi mukmin yang sebenarnya. Perbaguslah hubungan tetangga
bagi orang yang bertetangga kepadamu, maka engkau akan menjadi muslim yang
sebenarnya. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati”
Wara’ menjadi penting untuk dibicarakan mengingat wara’ sendiri
mempunyai ruanglingkup dan persoalan yang berkaitan erat dengan tindakan atau
tingkah laku seseorang baik lahir maupun batin, yang ingin mendekatkan dirinya
pada keridhaan Allah swt, agar pengabdian seorang manusia betul-betul maksimal
dan terjaga dari segalah hal sekecil apapun yang mengakibatkan kegagalan dalam
pengabdian.
Para ahli tasawuf membagi wara’ pada dua bagian, yaitu wara’
yang bersifat lahiriyah dan wara’ batiniyah. Wara’ lahiriyah berarti
meninggalkan segala hal yang tidak diridhai Allah, sedangkan wara’ batiniyah
berarti mengisi atau menempatkan sesuatu di hatinya kecuali Allah.
Seorang sufi yang wara’ akan senantiasa menjaga kesucian
baik jasmani maupun rohaninya dengan mengendalikan segala perilaku aktifitas
kesehariannya. Ia hanya akan melakukan sesuatu jika sesuatu itu bermanfaat,
baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Dan ia tidak akan menggunakan
sesuatu hal yang belum jelas statusnya. Dengan demikian maka raga dan jiwanya
senantiasa terjaga dari hal-hal yang tidak dirdhai Allah swt. Jika dikaji lebih
mendalam, apa yang dilakukan oleh sufi dengan wara’ bahwa sufi tidak melihat
suatu benda atau perilaku seseorang dari wujud kasarnya atau keelokan rupanya.
Namun seorang sufi melihat sesuatu baik benda perilaku, maupun gagasan atau
pemikiran dari nilai yang terkandung di dalamnya tanpa melihat bentuk fisik.
Para sufi menjadikan nilai sebagai hal yang substansial.
Sementara kekayaan, gelar, jabatan, atau status social
lainnnya bagi seorang sufi bukanlah hal yang menentukan kualitas seseorang di
mata Allah. Yang menentukan derajat seseorang adalah sejauh mana segala hal
tersebut mengandung nilai-nilai. Nilai yang dapat mensucikan diri dari kotoran
yang telah menjauhkannya dari kodrat asal penciptaannya yang paling sempurna
dibanding makhluk lain (Ibn ‘Atha’ hlam 33).
3.
ZUHUD
Kata zuhud berasal dari bahasa arab, zahada,
yazhudu, zuhdan yang artinya menjauhkan diri, tidak jadi berkeinginan, dan
tidak tertarik. Dalam bahasa Indonesia, zuhud berarti “perihal meninggalkan
keduniawian, pertapaan”. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 63. 2016).
Inilah pentingnya makna Zuhud dalam kehidupan umat manusia,
adanya keseimbangan (tawazun) antara kehidupan dunia dan akhirat,
kebutuhan fisik (jasamani) dan psikis (ruhani). Inilah solusi bagi umat manusia
dan orang yang beriman agar mendapat kehidupan dunia dan akhirat yang hasanah.
Konsep Zuhud inilah yang amat penting diamalkan oleh setiap pribadi muslim.
Dampak negatif dunia yang didukung dengan kemajuan teknologi
menyebabkan akses-akses kejahatan dan kezhaliman menjadi mudah. Kenyataan ini
menyebabkan seorang hamba yang menghayati nilai ajaran Zuhud semakin
berhati-hati dalam menempuh berbagai keputusan dalam kehidupannya. Dengan
konsep zuhud seseorang akan mendapatkan energi untuk senantiasa berhati-hati
dengan kehidupan dunia, karena kehidupan dunia ini banyak mengandung ujian.
Ketika konsep ini dipahami dan dihayati maka ia akan terus melangkah meniti Shirotol
Mustaqim. Cita-cita dan harapan serta paradigma berfikirnya akan jauh
menjangkau kepada hari keabadian. Ia tidak silau dengan gemerlap duniawi sebab
akhirat itu lebih baik dan kekal [wal aakhirotu khoyruw wa abqoo].
Kehidupan
dunia dan akhirat yang hasanah merupakan cita dan harapan besar bagi
orang-orang yang zuhud. Ketika kita terus memahami konsep zuhud, kita akan
senantiasa menjadi hamba yang penuh ampunan dan ridha Allah SWT.
KESIMPULAN
Ketiga maqom tersebut merupakan hal
yang saling berkaitan. Karena tingkatan untuk mencapai derajat tertinggi di
hadapan Allah. Dengan bertaubat disertai dengan zuhud dan wara’ maka akan
menghasilkan taubat yang sesungguhnya yang berdampak positif bagi pelakunya untuk merubahnya
menjadi hamba yang lebih baik. Karena, dalam meraih kedudukan untuk
dekat terhadap Sang Khalik adalah dengan menyadari perbuatan – perbuatannya
yang telah menjauhkan dirinya dari Sang Pencipta, dengan menyadari kesalahan
yang telah diperbuat selama ini maka seorang zahid tersebut dapat memohon ampun
kepada Allah dan menyesali perbuatan tersebut dan tidak akan kembali lagi
terhadap dosa yang telah diperbuatnya terdahulu. Sehingga urutan – urutan dalam
maqam akan dapat dilewati dengan hati yang lapang dengan tujuan untuk
mendapatkan kedudukan yang dekat terhadap sang Khalik atau sang Pencipta.
RELEVANSI DALAM BIDANG
Dari ketiga urutan tersebut, sebagai seorang muslim/ah programmer
kita harus menyadari perbuatan salah apa yang telah kita lakukan selama ini,
kita sesali perbuatan apa yang merugikan kita selama ini dan bertekad untuk
tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk mendapatkan dosa yang sama
dengan apa yang kita perbuatan selama ini. Dan sebagai seorang muslim/ah programmer
kita juga harus dapat bersikap berhati –hati dalam mengambil suatu tindakan dan
tidak akan terjerumus kedalam hal yang salah dan mengikuti kemauan dari
musuhnya umat manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar