Minggu, 30 Oktober 2016

Epistemologi Tasawuf



IDENTITAS
                Nama                                   : Maulana Ikhsan
                NIM                                    : 72154031
                Prodi/Sem.                           : Sistem Informasi-2 / III
                Fakultas                               : Sains dan Teknologi
                Perguruan Tinggi                   : UIN Sumatera Utara
                Dosen Pengampu                 : Dr. Ja’far, MA
                Matakuliah                           : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    : Epistemologi Tasawuf
               
BUKU                                                  
Identitas Buku                          : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran
                                                  Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)

A. Peran Hati dalam Tasawuf

Hati atau qalb ialah subsistem dari jiwa manusia. Istilah hati sering disebut berulang kali dalam Al-Qur’an dan hadis. Disebutkan bahwa dari segi fungsi menurut Achmad Mubarok, qalb berfungsi sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai serta memutuskan suatu tindakan (Q.S. Al-A’raf 7:179) sehingga qalb menjadi identik dengan akal. Disebutkan bahwa ada delapan potensi hati, yakni hati itu bisa berpaling, merasa kecewa dan kesal, secara sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu, berprasangka, menolak sesuatu, mengingkari, dapat diuji, dapat ditundukkan, dapat diperluas dan dipersempit, bahkan bisa ditutup rapat.
Menurut al-Ghazali, hati dapat meraih ilmu mengenai banyak hal manakala ia memiliki sifat-sifat Rabbaniyah dan hikmah. Hati akan menjadi suci ketika dihiasi oleh sifat Ilahiah, cahaya iman (sebagai dari dampak zikir dan ibadah)dan hikmah, sehingga hati dapat menjadi cermin yang bercahaya cemerlang dan akhirnya hati akan meraih kebenaran, bertemu Allah SWT, dan mampu menyingkap hakikat agama. Sebaliknya, ketika hati menjadi kotor akibat maksiat, maka hati menjadi hitam dan akibatnya akan terhijab dari Allah SWT.
Menurut Al-Ghazali, ada lima penyebab hati gagal meraih ilmu, yakni kekurangan hati, hati menjadi kotor akibat mengikuti hawa nafsu sehingga selalu berbuat maksiat dan perbuatan keji, hati dipalingan dari kebenaran karena tidak mau mencari kebenaran dan mengarahkan pikiran kepada hakikat Ilahiah, dan kebodohan dalam mengetahui arah kebenaran akibat penyelewengan ilmu dan tidak mengetahui manfaat mencari ilmu. Dapat disimpulkan bahwa hati harus dihiasi oleh ibadah, dan dijauhi dari jebakan hawa nafsu, agar hati mampu meraih ilmu, menyaksikan dunia spritual, dan menyingkap rahasia agama.
Menurut Al-Ghazali, soeorang sufi dapat meraih ilmu mengenai banyak hal tanpa melalui proses belajar dan usaha, melainkan dengan ketekunan dalam ibadah dan zuhud terhadap dunia. Menurutnya, hati mampu meraih ilmu yang diraih tanpa usaha dan dalil yang disebut ilham yang muncul dihati yang suci, meskipun tidak melalui proses belajar. Tingkatan tertinggi dalam ilham disebut wahyu yang diraih oleh para nabi dan rasul, sedangkan ilham diraih oleh para wali (sufi). Dengan demikian, kesucian hati sebagai dampak dari ibadah dan zuhud mampu menghantarkan manusia meraih ilmu dari Allah SWT. Secara langsung yang disebut ilham.

B. Metode Tazkiyah al-Nafs

Kaum sufi meyakini bahwa akal manusia masih memiliki kelemahan, meskipun relative sukses memberikan gambaran rasional terhadap dunia spiritual, akal mambu memberikan bukti rasional bagi eksistensi Tuhan, malaikat, dan kepastian hari kiamat akan terjadi. Keabsahan tazkiyah al-nafs (metode irfani) diakui oleh kitab suci umat islam. Al-quran misalnya, menegaskan bahwa para nabi dan rasul diutus untuk menucikan jiwa manusia (Q.S.Ali Imran/3:164).
Metode ‘irfani’ merupakan metode kaum sufi dalam Islam yang mengandalkan aktivitas penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara mendekatkan diri kepada sosok yang Maha Mengetahui (al-alim), bukan dengan metode observasi dan eksperimen atau juga metode rasional. Di antara kaum sufi terkemuka yang memiliki ketakinan tersebut adalah al-Ghazali (w.111), Ibn Arabi (w.1240), Suhrawardi (w.1191), dan Mulla Shadra (w.1640). 

Metode Tazkiyatun Nafs adalah membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji. Penyucian nafs mustahil dilakukan tanpa mengamalkan pengekangan diri, kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Al-Qur’an menjadikan kesungguh-sungguhan sebagai syarat untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan Allah.


Dan mereka berjuang dan bersungguh-sungguh demi Kami, Kami pasti akan menunjuki     
  mereka jalan-jalan Kami”(Q.S.al-Ankabut: 69)

Bagi setiap pemula, bagi setiap orang yang berada dalam tahap menengah, bahkan bagi seseorang yang telah mencapai tahap tertinggi, pengekangan diri mutlak diperlukan dan sama sekali tidak boleh dihindarkan oleh sang hamba Allah. Tanpa itu manusia akan merugi sebagaimana dikatakan dalam Al qur’an.:

“ Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan
    beramal saleh.”(Q.S.al-Ashr: 3)

Untuk membersihkan hati dapat dilakukan dengan cara:
 
Menghilangkan cinta dan keterikatan pada dunia, dunia itu sendiri tidaklah tercela sebab dunia  adalah tempat bercocok tanam atau ladang akhirat dan sarana untuk mencapainya. Akan tetapi cinta pada dunia dan keterikatannya adalah sebuah rintangan. Disamping melalui usaha dan pendidikan penyucian jiwa juga bisa terjadi karena karunia dan   rahmat Allah yang diberiakn kepada orang yang dikehendaki olehNya.
  1. Merenungkan ayat-ayat Al qur’an.
  2. Memerangi hawa nafsu
  3. Menyadari bahwa Allah tidak dimana-mana melainkan ada didalam hati kita.
  4. Mencari bimbingan/guru yang lebih mengerti.
  5. Senantiasa dan terus menerus mengingat Allah.
  6. Penyucian Nafs juga bisa dilakukan dengan proses pendidikan.

Kesimpulan
Hati adalah hakekat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, pengetahuan dan .Jiwa adalah harta yang tiada ternilai mahalnya. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin. Itulah kekayaan sejati. Sesuai dengan cara yang ditentukan oleh nash Al-Qur’an dan Hadis. Jiwa yang tersucikan merupakan jiwa-jiwa yang memilik akhlak sesuai apa yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadist, dan teladan utamanya yaitu Nabi Muhammad SAW. Ilmu yang bermanfaat, dapat membedakan yang mana baik mana yang salah. Ketika manusia mengenal hatinya, maka ia mengenal dirinya sehingga niscaya ia akan mengenal Allah Swt. 
RELEVANSI DENGAN BIDANG :

Sebagai Programmer Muslim/ah haruslah berusaha untuk meningkatkan kualitas ibadahnya dan berusaha mengendalikan nafsu sekuat mungkin agar seseorang tersebut bahagia di dunia dan akhirat. Dalam mencapai tingkatan yang sempurna atau mukhasafah maka seseorang harus rela bekerja keras dan berusaha secara sungguh-sungguh. Karena tidak ada tingkatan yang dapat dicapai dengan mudah. Semoga dengan mempelajari ini kita lebih mawas diri dan menyadari bahwa diri kita ini tidak apa-apanya, maka kita tidak boleh sombong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar