IDENTITAS
Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 /
III
Fakultas : Sains dan
Teknologi
Perguruan
Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen
Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Epistemologi Tasawuf
BUKU
Identitas Buku : Ja’far,
Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran
Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)
Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing, 2016)
A. Peran
Hati dalam Tasawuf
Hati atau qalb ialah subsistem dari jiwa
manusia. Istilah hati sering disebut berulang kali dalam Al-Qur’an dan hadis.
Disebutkan bahwa dari segi fungsi menurut Achmad Mubarok, qalb berfungsi sebagai
alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai serta memutuskan suatu tindakan
(Q.S. Al-A’raf 7:179) sehingga qalb menjadi identik dengan akal. Disebutkan
bahwa ada delapan potensi hati, yakni hati itu bisa berpaling, merasa kecewa
dan kesal, secara sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu, berprasangka,
menolak sesuatu, mengingkari, dapat diuji, dapat ditundukkan, dapat diperluas
dan dipersempit, bahkan bisa ditutup rapat.
Menurut al-Ghazali, hati dapat meraih ilmu mengenai
banyak hal manakala ia memiliki sifat-sifat Rabbaniyah dan hikmah. Hati akan
menjadi suci ketika dihiasi oleh sifat Ilahiah, cahaya iman (sebagai dari
dampak zikir dan ibadah)dan hikmah, sehingga hati dapat menjadi cermin yang
bercahaya cemerlang dan akhirnya hati akan meraih kebenaran, bertemu Allah SWT,
dan mampu menyingkap hakikat agama. Sebaliknya, ketika hati menjadi kotor
akibat maksiat, maka hati menjadi hitam dan akibatnya akan terhijab dari Allah
SWT.
Menurut Al-Ghazali, ada lima penyebab hati gagal
meraih ilmu, yakni kekurangan hati, hati menjadi kotor akibat mengikuti hawa
nafsu sehingga selalu berbuat maksiat dan perbuatan keji, hati dipalingan dari
kebenaran karena tidak mau mencari kebenaran dan mengarahkan pikiran kepada
hakikat Ilahiah, dan kebodohan dalam mengetahui arah kebenaran akibat
penyelewengan ilmu dan tidak mengetahui manfaat mencari ilmu. Dapat disimpulkan
bahwa hati harus dihiasi oleh ibadah, dan dijauhi dari jebakan hawa nafsu, agar
hati mampu meraih ilmu, menyaksikan dunia spritual, dan menyingkap rahasia
agama.
Menurut Al-Ghazali, soeorang sufi dapat meraih ilmu
mengenai banyak hal tanpa melalui proses belajar dan usaha, melainkan dengan
ketekunan dalam ibadah dan zuhud terhadap dunia. Menurutnya, hati mampu meraih
ilmu yang diraih tanpa usaha dan dalil yang disebut ilham yang muncul dihati
yang suci, meskipun tidak melalui proses belajar. Tingkatan tertinggi dalam
ilham disebut wahyu yang diraih oleh para nabi dan rasul, sedangkan ilham
diraih oleh para wali (sufi). Dengan demikian, kesucian hati sebagai dampak
dari ibadah dan zuhud mampu menghantarkan manusia meraih ilmu dari Allah SWT.
Secara langsung yang disebut ilham.
B. Metode
Tazkiyah al-Nafs
Kaum sufi
meyakini bahwa akal manusia masih memiliki kelemahan, meskipun relative sukses
memberikan gambaran rasional terhadap dunia spiritual, akal mambu memberikan
bukti rasional bagi eksistensi Tuhan, malaikat, dan kepastian hari kiamat akan
terjadi. Keabsahan tazkiyah al-nafs (metode irfani) diakui oleh kitab suci umat
islam. Al-quran misalnya, menegaskan bahwa para nabi dan rasul diutus untuk
menucikan jiwa manusia (Q.S.Ali Imran/3:164).
Metode ‘irfani’ merupakan metode kaum sufi
dalam Islam yang mengandalkan aktivitas penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan
menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara mendekatkan diri kepada
sosok yang Maha Mengetahui (al-alim),
bukan dengan metode observasi dan eksperimen atau juga metode rasional. Di
antara kaum sufi terkemuka yang memiliki ketakinan tersebut adalah al-Ghazali
(w.111), Ibn Arabi (w.1240), Suhrawardi (w.1191), dan Mulla Shadra (w.1640).
“Dan mereka berjuang dan bersungguh-sungguh demi Kami, Kami pasti akan menunjuki
Bagi setiap pemula, bagi setiap orang yang berada dalam tahap menengah, bahkan bagi seseorang yang telah mencapai tahap tertinggi, pengekangan diri mutlak diperlukan dan sama sekali tidak boleh dihindarkan oleh sang hamba Allah. Tanpa itu manusia akan merugi sebagaimana dikatakan dalam Al qur’an.:
“ Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan
Metode Tazkiyatun Nafs adalah membersihkan jiwa dari
sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji. Penyucian nafs
mustahil dilakukan tanpa mengamalkan pengekangan diri, kerja keras dan
kesungguh-sungguhan. Al-Qur’an menjadikan kesungguh-sungguhan sebagai syarat
untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan Allah.
“Dan mereka berjuang dan bersungguh-sungguh demi Kami, Kami pasti akan menunjuki
mereka jalan-jalan Kami”(Q.S.al-Ankabut: 69)
Bagi setiap pemula, bagi setiap orang yang berada dalam tahap menengah, bahkan bagi seseorang yang telah mencapai tahap tertinggi, pengekangan diri mutlak diperlukan dan sama sekali tidak boleh dihindarkan oleh sang hamba Allah. Tanpa itu manusia akan merugi sebagaimana dikatakan dalam Al qur’an.:
“ Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan
beramal saleh.”(Q.S.al-Ashr:
3)
Untuk
membersihkan hati dapat dilakukan dengan cara:
Menghilangkan cinta dan
keterikatan pada dunia, dunia itu sendiri tidaklah tercela sebab dunia
adalah tempat bercocok tanam atau ladang akhirat dan sarana untuk
mencapainya. Akan tetapi cinta pada dunia dan keterikatannya adalah sebuah
rintangan. Disamping melalui usaha dan
pendidikan penyucian jiwa juga bisa terjadi karena karunia dan rahmat
Allah yang diberiakn kepada orang yang dikehendaki olehNya.
- Merenungkan ayat-ayat Al qur’an.
- Memerangi hawa nafsu
- Menyadari bahwa Allah tidak dimana-mana melainkan ada didalam hati kita.
- Mencari bimbingan/guru yang lebih mengerti.
- Senantiasa dan terus menerus mengingat Allah.
- Penyucian Nafs juga bisa dilakukan dengan proses pendidikan.
Kesimpulan
Hati adalah hakekat manusia yang dapat menangkap segala
pengertian, pengetahuan dan .Jiwa adalah harta yang tiada ternilai mahalnya.
Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin. Itulah kekayaan
sejati. Sesuai dengan cara yang ditentukan oleh nash Al-Qur’an dan Hadis. Jiwa
yang tersucikan merupakan jiwa-jiwa yang memilik akhlak sesuai apa yang telah
diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadist, dan teladan utamanya yaitu Nabi Muhammad
SAW. Ilmu yang bermanfaat,
dapat membedakan yang mana baik mana yang salah. Ketika manusia mengenal
hatinya, maka ia mengenal dirinya sehingga niscaya ia akan mengenal Allah Swt.
RELEVANSI DENGAN BIDANG :
Sebagai Programmer Muslim/ah haruslah berusaha untuk meningkatkan kualitas ibadahnya dan berusaha mengendalikan nafsu sekuat mungkin agar seseorang tersebut bahagia di dunia dan akhirat. Dalam mencapai tingkatan yang sempurna atau mukhasafah maka seseorang harus rela bekerja keras dan berusaha secara sungguh-sungguh. Karena tidak ada tingkatan yang dapat dicapai dengan mudah. Semoga dengan mempelajari ini kita lebih mawas diri dan menyadari bahwa diri kita ini tidak apa-apanya, maka kita tidak boleh sombong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar