IDENTITAS
Nama : Maulana Ikhsan
NIM : 72154031
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 /
III
Fakultas : Sains dan
Teknologi
Perguruan
Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen
Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Definisi,
Hierarki, dan Tujuan
BUKU
Identitas Buku : Ja’far,
Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis
Ajaran Kaum Sufi (Medan: Perdana Publishing, 2016)
Ajaran Kaum Sufi (Medan: Perdana Publishing, 2016)
A. Definisi Tasawuf
Istilah tasawuf
berasal dari kata as-shuf yaitu wol.
Disebut sufi karena kaum sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba.
Abu bakar al-Kalabazi dalam al-Ta’arrufli
mazhab Ahl al-Tashawwuf dan Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyah menyebut sejumlah
pernyataan kaum sufi mengenai makna tasawuf. Bisyr al-Harits, misalnya
mengatakan “sufi adalah orang yang hatinya tulus terhadap Allah” Junaid
al-Baghdadi mengatakan :
“Memurnikan hati dari berhubungan dengan makhluk-makhluk
lain, meninggalkan sifat-sifat alamiah, menekan sifat-sifat manusiawi,
menghindari godaan jasmani, mengambil sifat-sifat ruh, mengikat diri dengan
ilmu-ilmu hakikat, mengumpulkan segala sesuatu untuk masa yang kekal,
menasihati seluruh umat, sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, dan mengikuti
syariah Nabi.”
Dapat dipahami bahwa Tasawuf merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan
penyucian jiwa manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pembahasan tasawuf akan sangat berkaitan dengan upaya menumbuhkan akhlak mulia,
sikap konsisten untuk mengendalikan diri
dari jeratan nafsu kebintangan dan kehidupan duniawi, dan jalan terbaik untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari aspek epistemologi, tasawuf berupaya
untuk memurnikan jiwa dan hati sebagai syarat utama untuk meraih kedekatan diri
dengan Allah SWT.
B. Hierarki
Dalam tradisi intelektual Islam, para ulama telah membuat klasifikasi ilmu
berdasarkan sudut pandangan Islam. Diantaranya dalam pembagian ilmu menurut
al-Ghazali (w.1111) berdasarkan cara perolehan ilmu, disebutkan bahwa ilmu terdiri
atas dua : ilmu yang dihadirkan (‘ilm
al-hudhuri ’/ presential) dan ilmu yang dicapai (‘ilm al-hushuli / attained’), sedangkan tasawuf diketagorikan
sebagai ‘ilm al-hudhuri’. Ibn
al-Qayyim al-Jauziyah (w.1350) membagi ilmu menjadi tiga derajat : ‘ílm jaliyun’ (didasari observasi,
eksperimen, dan silogisme), ‘ílm
khafiyun’ (ilmu makrifat), dan ‘ílm
laduniyun’ (didasari ilham dari Allah), dan tasawuf dikelompokkan kepada ‘ílm khafiyun’ dan ‘ilm
laduniyun’.
Dari aspek tujuan, pelajar sufi (al-murid)
harus terus menngkatkan kualitas ibadahnya dan beranjak dari tingkatan terendah
sampai tingkatan tertinggi (al-maqamat)
sampai mencapai kemantapan tauhid (at-tauhid)
dan makrifat (al-ma’rifah). Dari
aspek pembahasan, tasawuf membicarakan empat pokok persoalan. Pertama, pembahasan tentang mujahadah (al-mujahadah), zauq (al-dazwq), intropeksi diri (muhasabah al-nafs), dan
tingkatan-tingkatan spriritual (al-maqamat).
Kedua, Penyingkapan spiritual (al-kasyf) dan hakikat-hakikat (al-haqiqah) alam gaib (alam al-gayb). Ketiga, keramat wali (al-karamat).
Keempat, istilah-istilah kaum sufi
yang diungkap pasca ‘mabuk’ spiritual (al-syathahat).
Menurut Ibn Khaldun, kebanyakan fukaha menolak ajaran kaum sufi tentang
tasawuf.
Penolakan
fukaha (Sunni) tidak serta merta ditujukan kepada semua jenis tasawuf. Menurut
al-Taftazani, dari abad ketiga sampai abad keempat hijriah, aliran tasawuf
terbagi menjadi dua. Pertama, tasawuf
Sunni, yaitu aliran yang memagari pengikutnya dengan Alquran dan hadis, serta
mengaitkan ajaran mereka, terutama keadaan dan tingkatan rohani mereka, dengan
kedua sumber ajaran Islam tersebut. Di antara sufi yang termasuk dalam kelompok
ini adalah Abu Hamid al-Ghazali (w.1111). Kedua,
tasawuf falsafi, yaitu aliran yang cenderung kepada ungkapan-ungkapan ganjil (syathahat), memadukan antara visi mistis
dan visi rasional dan banyak menggunakan terminologi filsofis, bahkan
dipengaruhi banyak ajaran filsafat. Di antara sufi yang masuk dalam kelompok
ini adalah Suhrawardi al-Maqtul
(w.1191), Ibn Arabi (w.1240), dan Mulla Shadra (w.1640). Para fukaha dari
mahzab Sunni menolak banyak teori tasawuf yang dikembangkan oleh sufi-sufi dari
mahzab tasawuf falsafi yang ternyata lebih diterima dan berkembang di dunia
Syiah.
C. Tujuan Tasawuf
Para sufi telah merumuskan tujuan dari tasawuf. Sekedar pemetaan, Ibn
Khaldun menjelaskan bahwa puncak perjalanan spiritual para penempuh jalan
tasawuf setelah melewati beragam tingkatan spiritual (al-maqamat) adalah kemantapan tauhid dan makrifat. Dua sumber
ajaran Islam, Alquran dan hadis, memberikan sinyal kuat bahwa manusia
berpotensi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bertauhid dan bermakrifat
kepadanya. Dalam Q.S. al-Baqarah/2:186, Allah SWT. Berfirman :
"Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah), bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepadaku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintahku) dan hendaklah mereka beriman kepadaku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran."
Dalam Q.S. Qaf/50:16, Allah SWT. Berfirman :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya."
Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa :
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW.
Bersabda bahwa Allah SWT. Berkata “Aku menurut keyakinan hambaku kepadaku, dan
Aku bersamanya jika ia mengingatku. Jika ia mengingatku di dalam dirinya, maka
Aku mengingatnya di dalam diriku. Jika ia mengingatku di dalam suatu kelompok, maka
Aku mengingatnya di dalam suatu kelompok yang lebih baik darinya. Jika ia
mendekatiku sejengkal, maka Aku mendekatinya satu lengan. Jika ia mendekatiku
satu lengan, maka Aku mendekatinya satu depan. Jika ia mendekatiku berjalan,
maka Aku mendekatinya dengan berlari.”
Pendapat kaum sufi tentang makna ketauhidan sebagai tujuan utama dari
mahzab tasawuf dapat dilihat dari pendapat mereka tentang tingkatan (al-maqam) tertinggi yang mungkin dicapai
oleh seorang sufi. Mereka melahirkan sejumlah teori mengenal al-maqam tertinggi tersebut sebagai
dampak dari perbedaan mahzab diantara mereka. Paling tidak, tasawuf dibagi
menjadi dua mahzab, yakni tasawuf akhlaki/amali (berkembang di dunia Sunni) dan
tasawuf falsafi (berkembang di dunia Syiah). Mayoritas sufi dari kalangan Sunni
menegaskan bahwa al-maqam tertinggi
yang dapat dicapai oleh seorang sufi hanyalah tingkatan rida (al-ridha).
Kesimpulan
Tasawuf
adalah pembersihan hati, giat ibadah, membuat berakhlak, merekronstruksi
keadaan zhair dan bathin untuk mendapatkan kebahagiaan abadi, zuhud kepada
dunia, selalu ingat akhirat, dan bersungguh-sungguh di dalam taat dan takwa
kepada Allah Swt.
Dalam pembagian ilmu berdasarkan cara
perolehan ilmu terdiri atas dua yaitu : ilmu yang dihadirkan (‘ilm al-hudhuri’) dan ilmu yang dicapai (‘ílm al-hushuli’). Terdiri dari beberapa
aspek yaitu tujuan dan pembahasan. Aliran tasawuf terbagi dua antara lain:
a. Tasawuf Sunni adalah aliran yang memagari pengikutnya dengan Alquran dan
hadis, serta mengaitkan ajaran, terutama keadaan dan tingkatan rohani.
b. Tasawuf Falsafi adalah aliran yang cenderung kepada ungkapan-ungkapan
ganjil (syathahat) memadukan antara visi mistis dan visi rasional dan
banyak menggunakan terminologi filsofis, bahkan dipengaruhi banyak ajaran
filsafat.
Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu
kebersihan diri dan taqorrub kepada Allah SWT. Yakni memperoleh hubungan langsung
dengan Allah SWT. Sehingga seseorang akan merasa berada disisinya.
RELEVANSI DENGAN BIDANG :
Sebagai
seorang Muslim/ah yang berprofesi di bidang sistem informasi kita harus memiliki
peran
tasawuf dalam kehidupan modern antara lain :
tasawuf dalam kehidupan modern antara lain :
A. Menjadikan Muslim/ah berkepribadian
yang saleh dan berakhlak baik
B. Mendekatkan diri kepada Allah SWT
C. Sebagai obat mengatasi krisis
kerohanian manusia (moral)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar